Inilah 15 Kutipan Penting Tentang Kekudusan Hidup Seorang Pengikut Kristiani Menurut Paus Fransiskus

Oleh : Fr. Yudel Neno, S.Fil.

15 poin penting ini berdasar pada daya tangkap penulis setelah membaca Surat Anjuran Apostolik ke-tiga dari Paus Fransiskus I, yang berjudul Gaudete et Exultate ; Bersukacita dan Bergembiralah.

Kekudusan hadir dalam kesabaran umat Allah (art. 7)
Kekudusan adalah Wajah Gereja paling menarik (art. 9)
Kekudusan dicapai melalui karunia-karunia pribadi yang telah ditempatkan Allah dalam hati kita dan untuk bersaksi tentang NamaNya, 1Kor., 12:7. (art.11)
Kita semua dipanggil untuk hidup kudus melalui perbuatan kasih dan dengan memberikan kesaksian dalam setiap perbuatan yang kita lakukan. Karena itu untuk menjadi kudus, tidak perlu menjadi uskup, imam atau kaum religius. Seringkali kita tergoda untuk berpikir bahwa kekudusan hanya datang bagi mereka yang menarik diri dari urusan biasa dan menghabiskan waktu untuk berdoa. Bukan itu masalahnya. (art.15).
Kekudusan pada akhirnya adalah Roh Kudus dalam kehidupanmu (bdk. Gal.5:22-23), art. 15.
Kekudusan tumbuh melalui isyarat-isyarat kecil, art. 16
Kekudusan dicapai melalui pertobatan. Kekudusan dicapai melalui cara-cara luar biasa dalam hal-hal biasa yang pernah kita lakukan, art,17
Setiap orang kudus adalah sebuah pesan yang diambil dari Roh Kudus dari kekayaan Yesus Kristus dan diberikan kepada umatNya, art. 21.
Sama seperti kamu tidak dapat memahami Kristus terpisah dari Kerajaan yang Ia bawa, demikian juga perutusan pribadimu tidak dapat terpisah dari pembangunan kerajaan itu, carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, yang lainnya akan ditambahkan kepadamu. Pengenalanmu dengan Kristus dan kehendakNya, melibatkan tanggung jawab untuk membangun bersamaNya kerajaan kasih, keadilan dan perdamaian dunia, art. 25.
Tidaklah sehat mencintai keheningan seraya melarikan diri dari interaksi dengan orang lain, menginginkan kedamaian dan ketenangan sambil menghindari kegiatan, mengusahakan doa seraya meremehkan pelayanan, art, 26
Evangelii Gaudium tentang spiritualitas perutusan, Laudato Si’ tentang spiritualitas ekologis, dan Amoris Laetitia tentang spiritualitas kehidupan keluarga, art. 28.
Jangan takut akan kekudusan. Kekudusan tidak menghilangkan energy, daya hidup atau suka citamu. Kamu akan menjadi apa yang dipikirkan Bapa ketika Ia menciptakanmu, dan kamu akan setia kepada dirimu yan terdalam, art. 32
Kekudusan tidak membuatmu kurang manusiawi karena kekudusan adalah perjumpaan antara kelemahanmu dan kekuatan rahmat Allah, art. 34.
Dua seteru yang tak kentara dari kekudusan masa kini adalah gnostisisme dan pelagianisme, art. 35. Di sini ada dua bentuk kekudusan palsu yang menyesatkan yakni gnostisisme dan pelagianisme. Gnostisisme mengandalkan pengetahuan untuk mencapai kekudusan sedangkan pelagianisme mengandalkan kehendak dan kekuatannya sendiri untuk mencapai kekudusan karena menaati aturan tertentu atau tetap setia kepada peraturan Gereja Katolik yang khusus.
Seringkali kita berpikir bahwa karena kita mengetahui sesuatu atau menguasai istilah-istilah tertentu, kita sudah menjadi orang kudus dan sempurna lebih daripada orang-orang bodoh (art. 45)

 

(Frater tinggal di Seminari Tinggi Santo Mikhael Kupang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here