Tiga remaja perempuan asal NTT yang menjadi korban perbudakan oleh jaringan mafia trafficking saat dijemput Yos Nae Soi Wagub NTT

KUPANG, fortiter news – Viktor Laiskodat dan Yoseph Nae Soi Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur mulai beraksi dalam penanganan terhadap para korban trafficking asal NTT yang menjadi korban kebiadaban mafia. Sebelumnya Viktor Laiskodat memberikan pernyataan keras jika ada mafia perdagangan orang yang tidak bertobat menghentikan aksinya maka dirinya meminta supaya aparat mematahkan kaki para pelaku perdagangan orang ini.

Kali ini ada Tiga remaja perempuan asal NTT yang menjadi korban perbudakan oleh jaringan mafia trafficking. Ketiganya direkrut secara ilegal dan dijadikan sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) di Medan, Sumatera Utara. Beruntung, tiga remaja ini berhasil kabur menyelamatkan diri.

Ketiga anak perempuan yang masih di bawah umur tersebut adalah FS asal Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, LS asal Kabupaten Kupang, dan SA asal Kabupaten Malaka.

Yoseph  Nae Soi Wakil Gubernur NTT saat dikonfirmasi Media Fortiter News lewat Telepon Whatsapp pada hari Senin (8/10/2018) jam 12.30 wib menjelaskan jika dirinya mendapat informasi tentang para korban trafficking dari salah seorang Biarawati Katolik yakni Sr. Tine yang aktif dalam Relawan Untuk Kemanusiaan.

Menurut Yoseph Nae Soi, Sr. Tine saat menyaksikan secara langsung ketiga korban ini di Bandara Juanda Surabaya menaruh curiga sebab ketiganya nampak kebingungan. Oleh karena itu Suster tersebut langsung memberikan nomor HP nya untuk dihubungi jika terjadi sesuatu.

“Suster Tine itu telepon saya hari Minggu (7/10/2018) sore hari menyampaikan hal ini. Saya langsung ke Medan dan menjemput anak-anak kita ini. Di Medan mereka baru Satu Minggu dan sudah dipekerjakan untuk melayani laki-laki hidung belang atau menjadi Pekerja Seks Komersial. Saya sangat prihatin, lantaran mereka masih di bawah umur. Mereka di Medan ditolong oleh Keluarga Sinaga dan Keluarga Klik keturunan India rekannya Suster Tine setelah sebelumnya para korban ini minta perlindungan di salah satu Gereja di Malaysia,” cerita Yoseph Nae Soi.

Dirinya juga mengungkapkan sebenarnya Pemerintah Sumatera Utara akan mengirimkan surat pemberitahuan tentang keberadaan tiga anak korban trafficking ini kepada Pemerintah Provinsi NTT untuk memfasilitasi kepulangan mereka ke NTT.

Yoseph Nae Soi Wagub NTT saat menjemput Tiga gadis belia asal NTT yang menjadi korban trafficking di Medan

“sebelum ke sana itu pada tanggal 7 Oktober kemarin saya sudah telepon terlebih dahulu untuk sampaikan jika saya sendiri yang akan menjemput mewakili Pemerintah NTT. Sampai di Medan saya minta tiga anak itu dihantar dan nginap bersama saya di Hotel Aston serta pada tanggal 8 Oktober 2018 kami dari Medan dan Jam 3 Sore ini kami akan terbang ke Kupang,” jelas Yoseph Gubernur 2 NTT ini

Saat ditanya mengenai ketegasan Pemprov NTT dalam penanganan kasus serupa, Yoseph Nae Soi mengatakan jika Viktor Laiskodat dan dirinya sangat berkomitmen untuk memberantas hingga ke akar.

“kita tidak bisa memberikan toleransi untuk mafia ini. Mafia-mafia ini tersebar di NTT dengan leluasa dan di Medan juga. Mereka saling berhubungan. Kita kejar mereka dan kita tindak tegas mereka sebab anak-anak kita dari NTT ini sangat murah harga dirinya diperlakukan secara biadab. Kami sudah bekerja sama dengan aparat keamanan yakni Kapolda, Danrem, Danlanud, Danlanal, dan pihak terkait lainnya untuk terus mengejar para pelaku yang menjadi mafia ini. Puji Tuhan, sudah kita kantongi para pelaku ini. Selain itu kita juga lakukan moratorium,” kata Yoseph yang juga mantan Anggota DPR RI ini.

Mengenai tiga orang yang menjadi korban ini, menurut Yoseph Nae Soi, pihaknya akan menjadikan mereka Pilot Project untuk membantu Pemerintah.

“sampai di Kupang akan kita faslitasi, kita titipkan di Biara Sr, Tine. Pemprov akan memberikan biaya supaya mereka diberikan bimbingan sesuai kemampuan mereka pada akhirnya mereka pun dapat menghidupi diri mereka sendiri. Kami akan bekerja sama dengan Gereja atau lembaga keagamaan lainnya untuk mendirikan tempat penampungan bagi para korban perdagangan orang. Kita punya orang NTT itu lebih percaya lembaga agama tidak percaya Pemerintah, jadi kita minta Lembaga Agama ini untuk bantu Pemerintah untuk memberikan bimbingan dan pelatihan. Kalau Pemerintah, mereka bilang Pemerintah juga bekerja sama dengan Mafia. Bulan November ini saya akan ke Malaysia, untuk mendata para TKI asal NTT bersama tim JPIC dan yang ilegal kita upayakan supaya mereka diberikan dokumen legal. Saya bersama Pak Viktor manfaatkan jabatan ini untuk kepentingan Masyarakat NTT,” Janji Yoseph Nae Soi.

Suster Tine yang memberikan nomor HP nya dan yang meminta Yoseph Nae Soi untuk membantu proses pemulangan para korban saat dihubungi oleh Media Fortiter News hari Senin (8/10/2018) menyampaikan bahwa pada awalnya mereka bertemu di Bandara Juanda Surabaya.

“Waktu itu saya ke Semarang . Transit di Surabaya dan berjumpa mereka 3 anak itu bingung-bingung. Saya tanya mau kemana ? Mau ke Medan. Jawab mereka. Mau kerja di Medan . Terus saya tanya sudah pernah ke sana mereka bilang belum. Terus keadaan mereka tidak ada uang sepeser pun, hanya dibekali air mineral dua gelas. Mereka juga belum makan, maka ku belikan Pop Mie di ruang tunggu. Mereka sempat cerita bahwa ada satu PT yang bawa katanya ada di dekat pasar Oeba. Dan mereka tahu nama Bossnya. Gitu sa. Karena saya mau ke Semarang maka saya berikan nomor telepon dan selang satu hari salah satu anak telpon saya dan  cerita disuruh melayani laki laki. Penampungan lokasi dimana tidak diketahui karena gelap. saya langsung bilang malam ini kalian harus kabur dan anak-anak itu berhasil kabur. Dan ditampung sebuah keluarga yang sangat baik di Medan. Yang paling menjengkelkan adalah orang tua salah satu yang dari Noelbaki ditelepon oleh orang PT dari Medan mengatakan bahwa anaknya sudah kerja jadi perawat dengan Gaji 2’5 juta. Kemudian orang tuanya dengan kejengkelannya minta video call untuk lihat anaknya tapi langsung telepon dikasih mati. Setelah aku ikut audensi hari Jumat yang lalu, saya sharing dan minta bantuan untuk proses pemulangan anak-anak. Lalu saya minta nomor HP Pak Wagub dan kemarin sore saya baru telepon beliau dan langsung ditindaklanjuti. Anak-anak telepon saya ketika saya masih di Semarang pada tgl 29 September 2018,” tutur Suster Tine kesal.

Suster Tine yang juga aktif dalam Koalisi Anti Perdagangan orang ini meminta supaya Kapolda NTT dan jajarannya untuk membasmi mafia perdagangan orang sampai ke akarnya sebab para perekrut adalah orang-orang lama yang masih berkeliaran dan pihaknya akan menerima ketiga korban trafficking ini untuk dirawat dan diberikan keterampilan.

Herman Seran seorang anggota Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan Kupang yang juga aktif dalam kegiatan anti perdagangan orang mengutuk keras tindakan biadab para perekrut yang menjadi mafia. Dirinya meminta dengan tegas supaya Polda NTT serius untuk melakukan investigasi.

Herman Seran Pendiri Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan Kupang

“soal Pak Yoseph Nae Soi yang menjemput para korban dari Medan ini kita apresiasi sebab Pemerintah yang sekarang melakukan satu hal lebih maju dari yang sebelumnya. Namun jangan sampai ini hanya panas di awal nanti akan melempem akhirnya hilang total. Semoga dengan penjemputan yang dilakukan oleh Pak Wagub ini memberikan harapan kepada masyarakat bahwa Pemerintah NTT sudah serius untuk membasmi. Tidak hanya itu perlu dilakukan pembenahan Sumber Daya Manusia NTT supaya mampu mengelola Sumber Daya Alam yang ada. Pemerintah harus mampu berpikir, mengapa orang-orang kampung itu pada pergi merantau semua? Harus dipikirkan untuk mengembangkan sektor pertanian, peternakan, Kelautan, dan lainnya.” Pinta Herman Seran.

Herman Seran juga mengajak semua pihak untuk bertanggung jawab dengan kasus perdagangan orang di NTT. Dirinya mengajak supaya semua elemen masyarakat memberantas perdagangan orang ini.

“merantau itu pilihan hidup. Namun kalau dilengkapi dengan dokumen yang legal akan membuat nyaman, jika tidak dikejar-kejar di Malaysia, contohnya. Hidup tidak aman, bahkan penuh susah dan menderita. Saya mengajak birokrat di bawah gubernur untuk menyokong Gubernur dan Wakilnya mengatasi perdagangan orang. Karena perdagangan orang adalah pembunuhan Indonesia dari desa,” pungkas Herman Seran yang juga pendiri JRUK Kupang. (aa/fn)

2 KOMENTAR

  1. Trima kasih suster Tine, sdh menyelamatkan ketiga orang NTT korban tracffiking. Trima kasih juga untuk fortiter news. Kupas tuntas, mafia ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here