(FMN,OPSI NTTT,IPMALAYA,ITA PKK,PEMBARU,SERIKAT TANI ENOLANAN,BEM )

Kata Soekarno dalam menolak tawaran IMF, ’’  Go To Hell with your aid “ Pergilah ke neraka dengan bantuan anda,  tetapi justru Soeharto memuluskan jalan mereka melalui Undang-Undang Penanaman Modal sampai pada rezim Jokowi-JK pun demikian tidak ubahnya memberikan keluasan seperti  terlihat dalam pertemuan World Bank dan IMF pada tanggal 8–14 Oktober 2018 di Bali yang hanya akan menyengsarakan Rakyat Indonesia pada umumnya.

Agenda pertemuan yang diselenggarakan oleh indonesia dengan kucuran dana sebesar 850 Miliar Rupiah di tengah situasi kemiskinan dan di tengah situasi gempa yang melanda Indonesia (NTB dan Palu) oleh Pemerintah yang selayaknya tidak menguntungkan Rakyat Indonesia sebagaimana cikal bakal lahirnya World Bank dan IMF pada hakekatnya bukan bertujuan untuk membebaskan rakyat dunia dari jurang kesengsaraan melainkan hanya bertujuan untuk melipat gandakan keuntungan dengan menjadikan negara-negara berkembang seperti Indonesia, Vietnam, Kamerun, Cote, D’Ivoire, Mesir, Irak, Jordania, Kenya, Nepal sebagai  sumber penghisapan untuk mengatasi krisis mereka, yang disebabkan oleh perang dunia Ke II dan kemudian melahirkan kemiskinan, pengangguran serta mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan atau ketimpangan penguasaan struktur agraria dan Sektor public lainya termasuk indonesia.

Sebagaimana sampai saat ini 65 Tahun keberadaan IMF dan World Bank di Indonesia tidak membawa dampak positif bagi kehidupan Rakyat indonesia  melainkan hanya bertujuan  untuk mengatasi krisis imprealisme Amerika Serikat, Perancis, Inggris sebagai negara pemenang perang mengadakaan sebuah pertemuan untuk membicarakan pengaturan perekonomian global. Pertemuan yang diadakan di Bretoon Woods tahun 1944 melahirkan IMF dan WB yang di klaim ideal untuk mengatur perekonomian global yang saat itu sedang carut marut akibat kerugian Perang Dunia II, sehingga kedua lembaga ini secara tertulis memiliki tujuan untuk meningkatkan standar hidup di negara-negara yang anggotanya sebagai sumber penghisapan seperti lintah darat dengan skema melalui IMF mendorong kerja sama moneter Internasional serta menyediakan sarana kebijakan dan dukungan pengembangan kapasitas untuk membantu negra-negara membangun dan mempertahankan ekonomi yang kuat, serta memberikan pinjaman utang kepada negara-negara anggota yang memerlukannya.

Sedangkan Word Bank mendorong pembangunan ekonomi jangka panjang dan pengentasan kemiskinan dengan menyediakan dukungan teknis dan keuangan untuk membantu negara mereformasi sektor-sektor  tertentu atau melaksanakan proyek-proyek spesifik seperti membangun sekolah dan fasilitas kesehatan, menyediakan air dan listik memerangi penyakit dan melindungi lingkungan. Namun penuh dengan retorika kosong tanpa makna dengan bekerja sebagai agen yang kemudian memfasilitasi korporasi kapitalisme global dalam melakukan ekspansi pasar, bahan baku, tenaga kerja ke berbagai negara,  serta memberikan pinjaman uang melaui hutang untuk keperluan moneter.

Ketika krisis, World Bank memberikan hutang rente untuk keperluan pembangunan untuk program mengurangi kemiskinan dan kesenjangan dengan skema negara peminjam di haruskan mengembalikan uang pinjaman berlipat ganda atau biasa dikenal dengan bunga telah membuat si peminjam terjerumus lebih dalam ke jurang hutang. Berhutang untuk membayar hutang selayaknya seperti gali lubang tutup lubang. Sistem ini bagaikan lingkaran setan sehingga jangan heran jika hutang negara dari waktu ke waktu terus naik sementara negara-negara yang berutang  di haruskan melakukan reformasi-reformasi birokrasi bercorak Neolib dengan terlihat  dalam dunia pendidikan.

Anggapan Bank Dunia  bahwa sector pendidikan terlalu menyedot APBN sehingga perlu di pangkas hal ini kemudian mendorong  pemerintah  mengeluarkan kebijakan yang kemudian memangkas anggaran pembiayaan gaji guru dan dosen serta terus dipertahankan oleh setiap rezim yang berkuasa  sampai pada  Jokowi-JK dengan melahirkan kebijakan UKT, serta menjamurnya kampus-kampus swasta dengan biaya pendidikan yang mahal. Pendidikan itu bukan milik rakyat melainkan sebagai alat untuk mencari keuntungan seperti kehidupan pasar komoditas, juga dan sektor tani terjadi perampasan tanah melalui Skema Monopoli Tanah bagi Petani dalam konsep Reforma Agaraia Palsu salah satunya PS-TORA (perhutani social – tanah objek reforma agraria) dan Perampasan upah Buruh melalui politik upah  murah seperti PP No 78 Tahun 2015 yang semakin menjerumuskan rakyat ke dalam jurang kemiskinan demi kepentingan melipat gandakan keutungan kapitalisme monopoli atau imprealisme .

Maka, jalan untuk melepaskan diri dari dikte dua lembaga capital besar ini demi kedaulatan rakyat  adalah dengan reforma agraria sejati dan industri nasional. Land reform atau reforma agraria sejati bertujuan untuk membuka jalan keadilan bagi rakyat yang menggantungkan kehidupannya pada pengelolaan tanah dan sumber daya alam dan meningkatkan kesejahteraan kehidupan rakyat. Oleh karenanya, land reform merupakan program mendasar yang harus dijalankan terutama oleh negeri-negeri terbelakang atau negeri-negeri setengah jajahan dan setengah feodal, demikian halnya di Indonesia. Pembangunan industri nasional dalam land reform sejati adalah mengembangkan industri yang mengabdi pada kepentingan mayoritas penduduk dan bertumpu kepada hasil-hasil pelaksanaan land reform.

Dari penjelasan di atas maka tuntutan dari Aliansi Gerakan Rakyat Menentang IMF dan World Bank:

  1. Bubarkan IMF dan World Bank.
  2. Laksanakan reforma agraria sejati dan industrialisasi nasional.
  3. Cabut UU DIKTI.
  4. Tetapkan bencana Palu dan Lombok sebagai bencana nasional.
  5. Wujudkan reforma agraria sejati dan bangun industrialisasi nasional.
  6. Barikan ruang demokrasi bagi rakyat.
  7. Cabut surat pemberitahuan Polda Bali No: B/8012/IX/YAN.2.12./2018/Dit Intelkam
  8. Usut tuntas kasus poro duka.
  9. cabut UU ITE.
  10. Bebaskan ANINDIYA S. PRASETIO yang dikriminalisasi oleh pihak Kepolisian Polrestabes Surabaya.
  11. Berikan pengakuan status Hutan Adat Pubabu.

Oleh : Yosef Nahu, Sekjen FMN CABANG KUPANG.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here