Penulis

Di suatu musim yang ingin selalu kuingat. Ketika rintik-rintik hujan tak juga selesai membasahi dedaunan yang dulu pernah kering. Ketika teriknya matahari yang dulu membakar kini berhenti sejenak. Dan di saat doa-doa terasa begitu hambar. Pada titik temu antara kesadaran dan ingatan yang terbata-bata. Mungkinkah, cinta menjadi tembus pandang?

”Bagaimana perasaan cintamu itu muncul?” Tanyanya dengan antusias.

“Jujur, aku tak tahu! Dia datang begitu saja. Seperti terlempar dari ketiadaan menjadi ada. Bagaimana aku menjelaskannya kepada dirimu, jika aku sendiri tak pandai soal cinta. Aku tak lebih dari seorang kutu buku, yang menghabiskan seluruh waktu menikmati kalimat-kalimat rumit yang abstrak dan tak jelas.” Aku bergumam dengan sepenuh hati.

“Katamu, cinta itu datang begitu saja. Lalu bagaimana harus kupercaya bahwa cintamu itu benar-benar jujur dan tulus? Bukankah cinta seperti benih yang akhirnya bertumbuh karena musim, waktu dan ruang menciptakan saat-saat yang tepat.  Bukankah dari ketiadaan, tidak mungkin lahir sesuatu yang ada, demikianpun dengan cinta?”sanggahnya dengan mata tertuju padaku tajam.

 Aku berpikir sejenak. Kuraih tangannya dan kukatakan perlahan tepat di telinganya, “Memang benar, dari ketiadaan, tidak mungkin lahir sesuatu yang ada. Namun, tidakkah kau mengerti, rasa cinta ini muncul di saat kita bertemu? Sebelumnya, aku tidak pernah merasakan cinta seperti ini.Bagaimana mungkin aku mencintai tanpa pengalaman? Cinta selalu bersumber dari pengalaman dan pengalaman menunjukkan bahwa dulunya tidak ada,sekarang ada. Aku mengakui, sejak pertama kali berjumpa, aku jatuh cinta padamu.Perjumpaan kala itu, kau telah mengambil hatiku keping demi keping.”

 Kebingungan ternyata lebih berat dari menahan rindu. Pada rindu semua begitu jelas; dia dan perasaanmu. Sedangkan pada kebingungan semua kabur. Hidup pada titik kejelasan yang diliputi kesemuan, seperti mengetahui namun tidak mengerti. Layaknya pohon mangga di seberang jalan. Tiap pagi, dengan tekun seorang anak menyiraminya, begitu terus selama bertahun-tahun. Anak itu tahu, air memberi kehidupan pada pohon mangga. Namun, sedikitpun tak mengerti mengapa harus pohon mangga di seberang jalan itu.

Jika cinta seperti benih maka harusnya musim adalah perhatian dan pengorbanan. Tanpa perhatian dan pengorbanan, cinta hanyalah nada-nada minor tak bertuan, yang hidup di catatan usang penyair, lalu dikenang dalam drama-drama melankolis dan dipuja dari zaman ke zaman oleh manusia. Dan apabila cinta adalah pengalaman. Ia melampaui perhatian dan pengorbanan. Cinta bukanlah harmoni kata sifat. Cinta adalah fakta tak terbantahkan, yang abadi dalam kata-kata kerja. Cinta bukan perhatian tetapi memberi perhatian. Cinta bukan pengorbanan tetapi, dalam situasi apapun dan bagaimanapun, mengorbankan diri tanpa syarat. Jika cinta hanyalah kata sifat, usianya tidak lebih tua dari waktu dan tidak lebih muda dari bumi.

Akhirnya,manusia memberi nama dia cinta, karena dialah alasan langit dan bumi diciptakan, serta terang dipisahkan dari gelap. Cinta selalu bersumber dari kata kerja dan akan kembali kepada kata kerja. Apabila manusia jatuh cinta, ia pertama-tama harus mencintai. Jika manusia mulai mencintai, ia akan terus mencintai, lagi dan lagi hingga menjalani hidup ini terasa amat singkat. Namun, terbukti begitu lama. Dari yang tidak ada, mungkin tidak lahir sesuatu yang ada. Namun, dalam nama cinta, seolah-olah, yang tidak ada adalah rahim yang melahirkan semua yang ada. (*)

 

Oleh Inocenty Loe (Penulis adalah warga Kota Kupang penikmat sastra)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here