Ilustrasi

Selasa, 15 November tepat pukul 15.00 waktu setempat, Viany bersama teman-teman sekelasnya telah siap dalam ruangan kelabu 8/b Universitas Gita Cinta Bodok untuk mengikuti perkuliahan mata kuliah Sejarah  Perkembangan Diri. Mahasiswa menunggu dosen yang bernama Briliant  dengan gaya yang khas, tidak seperti mereka menanti dosen-dosen lain. Mereka menunggu dalam kebisuan, karena dosennya telah berhasil membuat mereka menjadi mahasiswa yang disiplin dalam segala hal. Mereka telah menjadi mahasiswa bisu yang tak beda dengan  patung hidup.  Mereka penurut, namun  mereka  juga adalah pembangkang bisu.

Tak seperti biasanya, Bapak Briliant di awal perkuliahan dan selama perkuliahan yang berlangsung selama 1 jam, tampak penuh pengertian pada mahasiswa yang pada umumnya  berasal dari  kampung-kampung di sekitar kecamatan Bodok. Mereka berasal dari keluarga-keluarga miskin secara ekonomi yang tidak bisa  mendapat makanan bergizi,  sehingga otak mereka lemah.  Tidak mengherankan kalau para dosen bekerja keras supaya apa yang diajarkan dapat dipahami dan membawa dampak positif.

Satu jam berlalu, Bapak Briliant memberikan pengajaran dengan meminta mahasiswa mencatat tanpa memberikan penjelasan. Viany dan Veronika baradu pandang  Veronika berbisik, “Beda ya suasana kuliah hari ini?”  “Hari ini kita bisa melihat Bapak  Briliant menebarkan senyum dan tidak menyuguhkan kopi pahit bagi kita.” “Ya manusia kan berkembang”, jawab Dominikus yang mendengar bisikan mereka. Setelah pujian bisu terucap, sang dosen mengatakan “Tutup buku catatan, sekarang ujian!” Viany, Veronika, Dominikus, dan teman-teman sekelas harus mengikuti ujian setelah mencatat tanpa ada penjelasan dan pengendapan. “Siapkan kertas!” perintah dosen kepada para mahasiswa. Suasana mencekam, karena ujian diawali dengan dorongan positif yang menyayat hati. Penyakit lama Bapak Briliant kambuh.  Bapak Briliant kembali menciptakan ruangan kelas menjadi penjara pendidikan. Ruangan yang menakutkan dan menegangkan mahasiswa untuk belajar.

Satu pertanyaan diberikan dan waktu yang disediakan 30 menit. Setiap mahasiswa menjawab sesuai dengan pemahaman masing-masing dan sesuai dengan daya ingatan mereka akan catatan yang baru diberikan. Pukul 16.30, lembaran jawaban dikumpulkan. Sang dosen membaca jawaban mahasiswa satu per satu. Darahnya mendidih, ketika membaca jawaban mahasiswa yang sangat jauh dari harapannya. Pujian yang menyayat hati terucap dari mulutnya.” Kamu ini terlalu pintar atau terlalu bodoh? ‘Sadar tidak kamu ini bodoh?’ ‘Kamu makan apa? Makananmu tidak bergizi, tak ada protein di otakmu. Saya punya alasan untuk mengatakan bahwa kamu bodoh, karena pertanyaan yang saya berikan  adalah pertanyaan dari  bahan yang baru saya ajar, tetapi kamu tidak bisa menjawab.” “Suara saya mahal, tetapi untuk kamu saya seperti membuang emas ke mulut babi, ‘Otak kamu sama seperti fosil manusia purba, satu lapis di atas kera”.

Api membara, semakin membakar semangat sang dosen  dalam melontarkan pujia-pujian itu, ketika terdengar suara Viany yang merupakan luapan pemberontakannya terhadap pujian-pujian sang dosen. “ Kamu mau apa? ‘Sudah bodoh banyak komentar, jangan coba-coba mau lawan dengan saya! “Kalau kamu jual saya beli”. Mahasiswa dalam kebodohan mendengar pujian-pujian itu tanpa kata hanya air mata yang mengalir membasahi meja belajar yang ada di hadapannya. Sang dosen menoreh  luka di batin mereka, luka yang sulit untuk disembuhkan. Luka kebodohan, luka keputusasaan. Luka dan luka…  Dalam kebisuan, Dominikus mengucapkan kata-kata, “ Kawan rasanya aku tak bisa jalan seperti ada yang memukul lututku”. Pukulan kata-kata dan ketelanjangan martabat yang dipersembahkan oleh dosen Briliant kepada mahasiswa yang bodoh di matanya terekam di hati dan pikiran mereka.

Pukul 17, perkuliahan berakhir. Berbagai perasaan berkecamuk di hati dosen dan mahasiswa. Bapak Briliant kecewa karena pengajaran tidak berhasil. Mahasiswa hati terluka, malu dan tiada daya karena bodoh. Semua kembali dengan membawa kekecewaan di hati. Bapak Briliant kembali ke rumahnya dengan mengendarai sepeda motor.  Viany berjalan beriringan dengan sang dosen.

Malang menjemput Bapak Briliant. Bapak Briliant menabrak mobil yang sedang parkir . Sang dosen terkapar di tanah tak berdaya, kaki kanan patah, mulut mengeluarkan cairan merah, gigi pun tak ketinggalan kembali ke Sang Pencipta. Viany yang menyaksikan peristiwa itu, segera menolong sang dosen. Namun dalam keadaan yang tak berdaya melihat Viany yang akan menolongnya, sang dosen berkata “Saya tak butuh bantuan dari manusia yang bodoh seperti kamu.” Dengan tenang Viany menjawab, “Bapak Briliant, biarkanlah saya menolong Bapak,  ‘Saya memang bodoh, tetapi saya diberi hati oleh Tuhan untuk menolong sesama   yang membutuhkan”.

Oleh Viany, Bapak Briliant diantar ke Rumah Sakit St Antonius. Bapak Briliant mendapat perawatan dan pengobatan. Sebelum kembali ke rumahnya Viany berpamitan dengan Bapak Briliant yang merupakan seorang dosen. Melihat Viany, sang dosen berpaling muka, kembali Viany dengan lembut berkata “Bapak, saya memang bodoh, tak selevel dengan Bapak, ‘Saya mahasiswa, Bapak dosen.” “Saya ingin memberikan obat untuk Bapak.” Obat dalam penderitaan yang diberikan oleh Viany adalah obat berupa kata-kata. “Bapak, bapak adalah dosen saya terpintar, tapi tolong kalau boleh kepintaran itu untuk mengangkat martabat manusia, bukan untuk merendahkan martabat manusia.”

“Syukur kecelakaan ini hanya kaki, mulut, dan gigi yang menderita bukan otak.”  “Kalau otak yang menderita, Bapak akan seperti kami yang bodoh.” “Tuhan baik, dan Dia ingin agar bapak tetap memberikan yang terbaik untuk kami. Terima kasih bapak, terima kasih dosenku, saya pamit” kata Viany kepada Bapak Briliant.  Tanpa kata, hanya linangan air mata, Bapak Briliant mengulurkan tangan menyambut tangan Viany. Bapak Briliant beristirahat di rumah sakit dan Viany kembali ke rumahnya. (*)

 

Oleh Suster Olympia Wea, KFS

*Penulis adalah Biarawati dan tinggal di Kalimantan Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here