(Jangan tersinggung karena foto ini ya, sebab ini hanya ilustrasi)

Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang sangat  erat. Keduanya tak mungkin dipisahkan. Ada manusia, ada kebudayaan. Tak akan ada kebudayaan, jika tidak ada pendukungnya, yaitu manusia.   “Kebudayaan merupakan hasil cipta dan karya manusia yang bersifat keindahan peradaban” (Indrawan:87). “Budaya adalah pengetahuan, pengalaman-pengalaman, kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, perilaku-perilaku, makna-makna, hirarki, agama, waktu, dan berbagai objek material, serta segala sesuatu yang diperoleh sekelompok orang dari generasi-generasi baik secara individual maupun kelompok” (Hermawan dan Batmolin, 2003:26).

Untuk melangsungkan kebudayaan, maka kebudayaan itu harus diwariskan kepada orang-orang di sekitarnya, terutama kepada anak cucu serta keturunan selanjutnya. Supaya kebudayaan itu bisa diwarisi oleh generasi penerus, maka  kebudayaan harus dipelajari oleh masyarakat budaya. Seorang individu perlu mengenal dan mempelajari budaya menjadi miliknya. Budaya akan tetap menjadi kata saja jika tidak dihayati dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berbicara mengenai budaya berarti berbicara mengenai nilai, karena dalam budaya terkandung nilai yang perlu dibathinkan dan dihayati. Ignas Kleden dalam pemaparan makalah di hadapan peserta seminar nasional di aula Kampus 1 Universitas Flores berpendapat “Seorang individu memerlukan nilai pertama-tama sebagai pedoman tingkah lakunya”. Nilai sebagai pedoman bagi seseorang dalam bersikap, bertutur kata, dan bertindak.

Bagaimana bersikap terhadap orang yang lebih tua atau lebih muda, bagaimana memperlakukan orang dari jenis kelamin berlainan, bagaimana menghormati alam dan menjaga lingkungan hidup serta bagaimana bersikap terhadap sesama se budaya dan sesama yang berbeda budaya. Nilai-nilai budaya akan membuat seseorang melihat dirinya sebagai anak-anak atau dewasa, sebagai lelaki atau perempuan, sebagai seorang terpelajar atau tidak, sebagai seorang yang beragama dan beriman atau tidak, sebagai orang yang diterima atau tidak oleh anggota komunitasnya.

Budaya kita dan realita masa kini

Sebagai seorang yang dibesarkan dengan budaya Lio, saya mengakui bahwa budaya Lio telah turut membentuk kepribadian saya. Setiap suku mempunyai budaya masing-masing. Dari setiap budaya tentu ada yang positif dan ada yang negatif. Kalau kita menoleh ke belakang, tentu kita bangga akan budaya positif yang telah membesarkan kita dan kita pun harus berjuang dan belajar untuk memperbaharui budaya negatif yang tidak sesuai dengan pandangan kita, demi kebaikan dan kemajuan.

Banyak hal yang baik yang ditemukan dalam budaya-budaya kita

Pertama, sopan santun. Budaya kita terkenal dengan sopan santun. Sopan santun dalam berbicara, sopan santun dalam pergaulan, dan  sopan santun dalam berpakaian.  Sopan dalam berbicara, kita dididik untuk saling mendengarkan, kalau orangtua berbicara anak-anak mendengar. Sopan santun dalam pergaulan, kita dididik untuk tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Sopan dalam berpakaian, kita dididik untuk mengenakan pakaian yang sopan, dan berpakaian sesuai dengan situasi.

Kedua, setia kawan  dalam penderitaan. Kita dididik untuk peka terhadap penderitaan orang lain. Ketika melihat orang yang sedang menderita, hati kita tergerak untuk menolong dan tidak menjadi penonton.

Ketiga, siap dan rela berkorban serta berani menanggung risiko. Dalam budaya ini, kita dididik untuk bertanggung jawab, bekerja untuk kepentingan umum, dan menolong sesama tanpa pamrih.

Keempat, budaya kita juga dikenal dengan budaya yang mengenal milik orang lain dan milik sendiri, karena kita dididik untuk tidak menjadi pencuri, entah dalam hal kecil maupun dalam hal besar. Ada satu ungkapan Lio yang sejalan dengan budaya ini “Mae siku meko, lima lama” yang bermakna budaya jangan jadikan milik orang lain menjadi milik kita.

Kelima, bekerja dengan tekun. Kita dididik untuk bekerja dengan tekun kalau mau sukses dan bahagia.  Adapun ungkapan Lio yang bertalian dengan budaya ini “Kumu dubu, lima jinga, dau no’o runga ra, runga getu, tula uja, wari leja, we dapa ka muri bheni du limba leta”  Yang berarti kita kita harus bekerja dengan rajin, berkeringat dan berpeluh, hujan, panas untuk dapat makan dan hidup baik, yang bermakna budaya kita harus bekerja dengan  tekun untuk mencapai kebahagiaan.

Keenam, gotong royong. Kita dididik untuk bekerja sama dan saling membantu. Ketujuh, religiositas, kita dididik untuk taat dalam hidup beragama. Kedelapan, toleransi. Kita didik untuk  menghargai perbedaan dan selalu memberi ruang kepada orang lain untuk menjalankan kewajiban demi kebaikan. Budaya positif yang saya sebutkan ini, hanya beberapa dari budaya kita. Kalau ditelaah tentu masih banyak budaya positif yang telah membentuk kita. Ada pula hal negatif yang perlu kita tinggalkan seperti: mementingkan urusan adat daripada urusan pendidikan, menjaga gengsi yang berlebihan, boros, menyepelekan perempuan atau yang lebih dikenal sekarang dengan keadilan dan kesetaraan gender.

Dengan globalisasi, homogenisasi, modernisasi dan kemajuan teknologi, maka involusi kebudayaan kita pun terjadi. Budaya sopan santun mengalami kemerosotan, baik dalam berbicara, pergaulan, maupun dalam berpakaian. Tak jarang kita mendengar keluhan orangtua terhadap sikap dan gaya bicara anak-anak yang sulit untuk mendengarkan. Ketika orangtua berbicara anak-anak pun berbicara. Hal ini tidak saja terjadi di rumah, tetapi juga di bangku pendidikan, dalam pertemuan resmi, bahkan dalam rumah doa pun terjadi. Ketika guru atau dosen mengajar, murid atau mahasiswa bermain, sibuk dengan pekerjaannya sendiri, berbicara dengan temannya ataupun main telepon genggam.

Ketika ada pembicara yang berbicara dalam pertemuan resmi, ataupun ketika Imam sedang berkotbah baik di Gereja maupun di Masjid tak jarang pendengar bukan mendengar tapi sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga apa yang disampaikan atau diajarkan tidak dapat dipahami dengan baik. Bahkan dalam kalangan orang terhormat pun kalau kita nonton di tayangan televisi,  ada juga Dewan terhormat yang bertengkar dalam rapat. Realita ini mengindikasikan bahwa mendengarkan menjadi hal yang sulit untuk kita zaman sekarang.

Kemerosotan dalam pergaulan, begitu banyak pemuda dan pemudi yang terpaksa harus diresmikan menjadi keluarga baru  karena pergaulan bebas.  Karena pergaulan juga dapat menyebabkan kegagalan  dalam perjuangan sebagai siswa maupun mahasiswa. Begitu juga dalam hal berpakaian. Cara berpakaian seseorang yang sekarang dikenal dengan baju umpan dan celana umpan, dapat juga menimbulkan hal-hal negatif yang tidak diinginkan seperti pemerkosaan.

Melihat cara berpakaian yang jauh dari budaya kita, seorang Imam waktu berkotbah di Gereja pernah bercerita bahwa ada seorang penjahit yang bertanya kepadanya menjelang perayaan Natal. Pertanyaannya demikian, “Pastor, potongan baju yang baik, untuk perayaan Natal bagaimana? Dengan sedikit berteka-teki pastor menjawab “Potongan baju yang baik adalah, yang di atas jangan semakin ke bawah dan yang di bawah jangan semakin ke atas. Jawaban pastor ini membuat si penjahit tersentak. Mungkin terkesan porno kalau berpikir sepintas,  namun, kalau direnungkan  hal ini mengindikasikan gaya berbusana kita saat ini.

Selain kemerosotan budaya sopan santun, budaya kita yang dikenal dengan kesetiakawanan juga mulai luntur. Orang menjadi takut untuk berkorban, takut menanggung risiko, takut untuk bertanggung jawab, dan tidak peka dengan situasi. Misalnya: Ketika terjadi kecelakaan, semua orang berlari meninggalkan tempat kecelakaan dan tak mau jadi saksi. Kalau diminta sumbangan dan bekerja untuk kepentingan umum orang tentu akan rajin bila ada upahnya, memberi dengan mengharapkan balasan. Karena ada petugas kebersihan, sampah bertaburan di mana-mana, bahkan di lingkungan terpelajar sekalipun, kita akan menemukan ruangan kelas seperti pasar.

Kemerosotan dalam budaya yang mengenal milik pribadi dan milik orang lain pun terjadi. Kalau kita membaca, mendengar, dan menonton berita dalam harian maupun  tayangan televisi,  begitu banyak kasus pencurian dan korupsi. Jika kita masih dalam budaya yang mengenal milik pribadi dan milik orang lain, maka tidak akan ada pencuri, tidak akan ada koruptor, bahkan rumah tanpa kunci pun tidak membuat orang cemas.

Budaya toleransi pun demikian, koran maupun televisi sering menyajikan berita kerusuhan yang berisukan sara. Sangat menyedihkan pula, jika setiap hari raya harus ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban selama umat merayakan ibadat. Budaya kita dikenal dengan budaya yang taat dalam hidup beragama, namun sekarang sebagai umat beragama kita dapat melihat bahwa rumah ibadat akan ramai hanya pada hari raya. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa budaya kita yang baik perlahan-lahan luntur bahkan akan hilang.

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam budaya kita juga terdapat budaya negatif seperti mementingkan urusan adat daripada pendidikan, karena mempunyai konsep bahwa tanpa pendidikan tinggi seorang bisa hidup dan masih banyak tanah yang bisa dikerjakan. Urusan adat menjadi urusan bergengsi, sehingga berhutang sekalipun tidak menjadi masalah yang penting orang tahu bahwa kita bisa.

Sekarang kita kenal dengan perjuangan gender, namun realitas budaya kita, perempuan sering disepelekan dalam berbagai peran sosial, misalnya dalam hal pengambilan keputusan, maupun dalam hal warisan. Karena perempuan dipandang sebagai insan yang lemah, perempuan juga sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Solusi dan Harapan

Perubahan dan pembaharuan kebudayaan adalah suatu proses yang wajar, karena kebutuhan budaya juga berubah dari masa ke masa. Perubahan nilai menyebabkan juga bahwa nilai-nilai yang dianut oleh suatu generasi belum pasti akan diterima begitu saja oleh generasi lainnya. Sebagai penerus budaya, ada dua proses yang berlangsung dalam hubungan antara nilai-nilai budaya dan seorang individu.

Proses pertama dinamakan apropriasi, yaitu kalau seperangkat nilai budaya diperlakukan dan dihayati oleh seorang individu sebagai nilainya sendiri. Proses kedua yaitu ekspropriasi yaitu kalau seorang individu dengan sengaja menjauhkan diri dari sebuah nilai dan kebudayaannya yang tidak sesuai dengan pandangannya.  Baik apropriasi maupun ekspropriasi berlangsung melalui proses belajar dalam kebudayaan. Jika masyarakat budaya mengapropriasi dan mengekspropriasi nilai-nilai budaya  dengan baik, maka budaya kita akan tetap lestari dan berkembang ke arah positif. Seorang individu bisa belajar dari kebudayaannya sendiri atau dari kebudayaan lain.

Mari kita lestarikan budaya kita yang baik, dan kita tinggalkan budaya kita yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan kita. Budaya menjaga kita, dan dari cara hidup kita orang mengenal siapa kita dan bagaimana budaya kita. (*)

 

Oleh Suster Olympia Wea, KFS

*Penulis adalah Biarawati dan tinggal di Kalimantan Barat

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here