Paus Fransiskus meminta para uskup untuk berani, jujur, berpikiran terbuka, murah hati dan, terutama, tekun dalam doa pada saat membuka pertemuan tiga minggu tentang “kaum muda, iman, dan pilihan hidup.”

Sementara banyak orang muda berpikir bahwa orang tua tidak memiliki sesuatu yang berguna untuk diajarkan pada mereka untuk hidup hari ini, kata paus, usia para uskup, dikombinasikan dengan klerikalisme, membuat kita kita melihat diri sebagai kelompok yang memiliki semua jawaban dan tidak perlu lagi mendengarkan atau mempelajari apa pun.

“Semangat klerikalisme adalah sebuah penyimpangan dan merupakan akar dari banyak kejahatan dalam gereja,” kata Paus Fransiskus pada 3 Oktober di sesi pertama sinode.

“Kita harus dengan rendah hati meminta maaf untuk itu dan menciptakan kondisi sehingga hal itu tidak terulang lagi.”

Paus secara resmi menyambut 267 uskup dan imam sebagai pemilik suara dalam sinode, delapan delegasi persaudaraan dari gereja-gereja Kristen lainnya dan 72 mudika, Bruder dan Suster, pengamat dan ahli, yang akan melakukan pertemuan hingga 28 Oktober.

Paus juga berterima kasih kepada ribuan anak muda yang menanggapi kuesioner Vatikan, yang berpartisipasi dalam pertemuan pra-sinode di bulan Maret atau mereka yang memberi masukan kepada uskup mereka tentang keprihatinan mereka. Dengan pengorbanan waktu dan tenaga, mereka bertaruh bahwa itu sepadan dengan usaha untuk menjadi bagian dari gereja atau untuk berdialog dengannya.

Mereka menunjukkan bahwa, setidaknya pada tingkat tertentu, mereka percaya gereja bisa menjadi ibu, guru, rumah dan keluarga bagi mereka, katanya. Dan mereka menegaskan bahwa terlepas dari kelemahan dan kesulitan manusia, mereka percaya bahwa gereja mampu memancarkan dan menyampaikan pesan abadi Kristus.

“Tanggung jawab kita di sini di sinode, bukan untuk melemahkan mereka, melainkan untuk menunjukkan bahwa mereka berhak bertaruh. Ini benar-benar sepadan dengan upaya mereka, tidak membuang-buang waktu!,” kata paus.

Paus Fransiskus memulai sinode dengan ajakan agar setiap peserta berbicara dengan keberanian dan kejujuran karena hanya dialog yang dapat membantu kita untuk tumbuh.

Tetapi dia juga meminta peserta untuk waspada terhadap “obrolan yang tidak penting, rumor, dugaan, atau prasangka” dan memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan orang lain.

Banyak peserta sinode tiba di Roma dengan teks pidato tiga menit yang ingin mereka sampaikan. Tetapi paus meminta mereka untuk dengan bebas mempertimbangkan apa yang telah mereka persiapkan sebagai rancangan sementara yang terbuka untuk setiap penambahan dan perubahan seturut dinamika yang terjadi dalam sinode.

Kesediaan untuk “mengubah keyakinan dan posisi kita,” katanya, adalah “tanda manusia hebat dan kematangan rohani.”

Sinode ini dirancang untuk menjadi “latihan menentukan pilihan hidup,” kata paus kepada mereka. “discerment bukanlah slogan iklan, bukan teknik organisasi atau trend dari kepausan ini, tetapi sikap batin yang berakar pada tindakan iman.”

Discernment “didasarkan pada keyakinan bahwa Tuhan bekerja dalam sejarah dunia, dalam peristiwa kehidupan, pada orang yang saya temui dan berbicara kepada saya,” katanya. Itu membutuhkan kemauan untuk mendengarkan dan doa, itulah sebabnya mengapa paus menambahkan aturan bahwa setelah setiap lima pidato akan ada jeda tiga menit untuk refleksi dan berdoa.

Mendengarkan Roh, mendengarkan Tuhan dalam doa dan mendengarkan harapan dan impian anak muda adalah bagian dari misi gereja, kata paus. Proses persiapan untuk sinode “menyoroti gereja yang perlu mendengarkan, termasuk kepada orang-orang muda yang sering tidak merasa dipahami oleh gereja” atau merasa mereka “tidak diterima dan kadang-kadang bahkan ditolak.”

Mendengarkan satu sama lain, terutama orang-orang muda dan uskup yang saling mendengarkan, katanya, adalah satu-satunya cara sinode dapat menjadi saran yang bermanfaat untuk memimpin lebih banyak orang muda kepada iman atau untuk memperkuat iman orang-orang muda yang terlibat dalam kehidupan gereja. .

“Orang dewasa harus mengatasi godaan untuk meremehkan kemampuan anak muda dan (seharusnya) tidak menilai mereka secara negatif,” katanya. “Saya pernah membaca bahwa  anggapan negatif untuk orang muda berasal dari 3000 SM dan ditemukan di tanah liat di Babel kuno, di mana ada tertulis bahwa orang muda tidak bermoral dan tidak mampu menyelamatkan budaya masyarakat mereka.”

Anak-anak muda juga, katanya, harus mengatasi godaan untuk mengabaikan orang dewasa dan menganggap orang tua kuno, ketinggalan jaman dan membosankan,’ karena apa yang kamu capai saat ini berkat jasa para orang tua.

Paus Fransiskus, yang diminta oleh beberapa uskup untuk menunda sinode karena skandal pelecehan seksual, mengatakan dia tahu saat ini “sarat dengan perjuangan, masalah, beban. Tapi iman kita mengatakan bahwa itu juga ‘ kairos ‘(saat yang tepat) di mana Tuhan datang untuk menemui kita untuk mengasihi kita dan memanggil kita untuk kepenuhan hidup. ”

Tujuan dari sinode itu, kata Paus Fransiskus, bukan untuk menyiapkan dokumen – dokumen sinode, katanya, umumnya “hanya dibaca oleh segelintir orang dan dikritik oleh banyak orang” – tetapi untuk mengidentifikasi “proposal pastoral konkret” yang akan membantu dan menjangkau  semua anggota gereja, membawa dengan dan mendukung iman orang-orang muda.

Dengan kata lain, katanya, tujuannya adalah “menanam mimpi, mengguratkan nubuat dan visi, memungkinkan harapan untuk berkembang, inspirasi iman, membalut luka, menjalin hubungan persaudaraan, membangkitkan fajar harapan, saling belajar satu dengan yang lain dan menciptakan sumber daya terang yang akan mencerahkan pikiran, hati yang hangat, memberi kekuatan kepada tangan kita dan mengilhami orang-orang muda – semua orang muda, tanpa ada yang dikecualikan – visi masa depan yang dipenuhi dengan sukacita Injil. (Redaksi/sumber : https://indonesia.ucanews.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here