Sabtu, 22 September 2018. Pagi itu, tepat pukul 07.00 saat mentari baru saja menyembul dari balik Gunung Bobo, terdengar suara dari panitia yang mengarahkan kegiatan yang akan dikenang oleh masyarakat Mangulewa khususnya Bajodhena. Kegiatan budaya yang sudah diwariskan secara turun temurun dan harus tetap dilestarikan oleh generasi penerus. “ Ka Ngadhu Me’e” adalah salah satu dari sekian budaya yang tidak kalah penting di masyarakat Ngada khususnya di Bajodhena Mangulewa.

Hari itu adalah puncak dari sekian proses yang dilalui dari mulai tibo atau menemukan petunjuk dimana tiang utama ngadhu bisa digali, kemudian proses penggalian tiang yang ditemukan di hutan, sampai pada tahap akhir yaitu acara peresmian ngadhu yang dikenal dengan ka ngadhu. Ngadhu me’e direnovasi karena kondisinya sudah tidak layak. Ka Ngadhu merupakan bentuk  ucapan syukur dengan hadirnya Ngadhu baru yang berada di tengah kampung. Ngadhu melambangkan leluhur  lelaki dari satu klan atau woe dan melambangkan keberanian.

Pagi itu masyarakat Mangulewa khususnya di Bajodhena begitu sibuk di rumah penempatan masing-masing yang sudah ditentukan sehari sebelum acara puncak pada Hari Sabtu, 22 September. Jalanan terlihat sepi karena mereka  masing-masing baik dari saka Pu’u atau orang yang menempati rumah adat suku dan saka lobo sibuk menanak nasi dan menyembelih babi. Sehari sebelum acara puncak ini, yaitu Jumat, 21 September 2018  warga yang datang dalam kelompok membawa kerbau atau babi yang dikenal dengan istilah idi aze ngana dimana saat masuk mereka memperkenalkan status hubungan mereka kepada warga sekitar melalui sa ngaza dan diikuti ja’i diiringi gong gendang. Setelah itu panitia akan mengarahkan dan membagi penempatan di sekitar perumahan warga dan disusul dengan upacara makan minum.

Warga kelihatan bersemangat mulai dari orangtua sampai anak-anak karena pagi ini Sabtu, 22 September ada penyembelihan kerbau. Kerbau yang akan disembelih harus benar-benar dipastikan menghadap ke Ngadhu, jika kerbau belum menghadap ngadhu maka kerbau tersebut jangan dulu disembelih. Semua begitu antusias, ada merinding, ada yang gugup, ada juga yang berani untuk melihat saat parang yang tajam menebas leher kerbau.Kerbau meronta, namun berkali-kali hujaman parang tajam dari penyembelih akhirnya berhasil menewaskan hewan kurban tersebut. Darah kerbau tersebut akan dibasuh pada ngadhu baru tersebut. Pukul 12.00 semua diminta untuk menyerahkan hasil masak berupa nasi dan daging. Namun, belum ada satu pun yang datang untuk menyerahkan hasil masakan seperti yang diminta panitia. Kaum lelaki sibuk dengan mengolah daging babi, dan kaum wanita masih menanak nasi. Bara panas menusuk kulit yang berasal dari tungku perapian ditambah cuaca pun begitu panas dan  angin yang bertiup cukup kencang menerbangkan debu disekitarnya. Sementara beberapa pria lainnya dari satu sao atau rumah adat yang sama sibuk  menyanyam dan menghiasi bambu dengan bahan alam. Bambu tersebut akan digunakan untuk mengangkut nasi dan kepala babi untuk diserahkan kepada panitia dan akan kembali dibagikan kepada semua yang hadir.

Tidak lama kemudian, beberapa orang keluar dari rumah yang ditempatkan panitia dengan memikul bambu yang ditengahkan disimpan dalam bhodo atau bakul berisi nasi dan kepala babi. Kelihatan begitu berat, karena dari cara berjalan mereka yang agak terseok-seok. Pukul 14.00, saat matahari tengah gagah, panitia mulai mengarahkan para penari dan beberapa pria yang mengangkut bhodo tersebut mengelilingi Ngadhu dan Bhaga yang berada di kampung Bajodhena sambil melantunkan syair adat yang memang sudah diwariskan dari leluhur. Para penari kelihatan begitu bersemangat, meski beberapa lelaki yang mengangkat berjalan dengan tertatih-tatih, namun mereka tetap memancarkan senyuman, karena untuk leluhur semuanya harus diberikan dengan tulus.

Setelah upacara itu, panitia meminta semua duduk di tengah kampung di atas bambu –bambu yang dibentangkan dan sudah disiapkan panitia. Banyak orang mulai berdatangan dan berebutan tempat duduk. Semua memilih di depan, karena di depan lebih cepat mendapatkan pembagian makanan berupa nasi dan daging. Tua muda, anak-anak, laki-laki perempuan semuanya duduk tak mempedulikan betapa teriknya mentari. Panitia mulai menyampaikan beberapa sambutannya dan tokoh adat yang telah diminta oleh panitia. Setelah selesai menyampaikan sambutan yang bernas dan sarat dengan nilai budaya, panitia meminta anak-anak muda berkumpul dan bersiap membagikan makanan. Unik, ketika yang melayani nasi dan daging semuanya adalah kaum adam. Pembagiannya juga unik, menggunakan tangan tanpa bantuan apapun. Semua orang sibuk menyiapkan tempat baik itu berupa bere atau wati ( alat yang digunakan terbuat dari daun lontar) dan semuanya terisi sesuai dengan anggota dalam suatu rumah. Orang yang sudah mendapatkan yakni nasi dan daging boleh meninggalkan tempat dan kembali ke rumah. Tradisi ini bukan hanya soal makan nasi dan daging yang berlimpah, namun budaya yang harus diresapi oleh kita generasi muda akan tradisi ini tidak hilang tergerus zaman. (*)

 

Oleh Agustina Bate

*Penulis adalah Guru di SMP St. Agustinus Langa dan penikmat sastra

 

Tulisan ini masih jauh dari sempurna, apabila ada kritik dan saran bisa disampaikan dalam kolom komentar. Terimakasih.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here