Tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2018 adalah Kabar Gembira di Tengah kemajemukan. Tema ini merupakan penjabaran dari tema besar BKSN (2017-2020) yakni Mewartakan Kabar Gembira di Tengah Arus Zaman.

Frater Yudel Neno, Pr

Secara sosiologis, kemajemukan menunjuk tegas pada berbagai bidang kehidupan. Secara demografis, kemajemukan menunjuk pada pluralitas penduduk. Secara geografis, kemajemukan menunjuk pada luasnya wilayah. Secara topografis, kemajemukan menunjuk pada setiap daerah dengan karakteristiknya masing-masing. Secara milenial, kemajemukan menunjuk pada adaptasi teknologis.

Pertanyaan adalah kabar gembira model mana yang mau diwartakan di kala generasi milenial sedang hanyut dalam permainan euforia teknologi? Gampang saja kalau sekedar menjawab. Kabar Gembira itu adalah Kristus sendiri.

Problematika milenial sekarang adalah bukan soal benar tidaknya memberi jawaban melainkan soal tentang spiritualitas hidup. Krisis terbesar generasi milenial adalah krisis spiritualitas hidup. Zaman di mana perkembangan teknologi yang begitu gencarnya menawarkan berbagai kemudahan hedonistik dan konsumeristik, generasi milenial justru makin asyik dan terusik dengan euforia teknologi serentak mendewakan teknologi dan mengabaikan Injil.

Di sini, pewartaan Kabar Gembira tidak lagi memadai kalau ditempuh dengan cara cepat, selalu dan meluluh mengkambinghitamkan perkembangan teknologi yang berdampak pada mentalitas generasi milenial.

Pewartaan yang bercorak mempersalahkan bahkan  mengutuk di satu sisi merupakan pintu masuk bagi generasi milenial untuk semakin terusik dengan euforia media karena tawaran berbagai kemudahan.

Atas pertimbangan ini, di tengah kemajemukan, Kabar Gembira justru hadir dengan wajah baru bukan berada di luar segala kesibukan duniawi melainkan berada bersama di tengah-tengah kesibukan duniawi. Sama seperti Kristus telah hadir sebagai Kabar Gembira di tengah kemajemukan dan untuk semua orang sedemikian itu Kabar Gembira pun patut dilaksanakan dalam terang Kristus yang datang bukan untuk membenci dunia melainkan datang untuk menyelamatkan dunia.

Di sini menghadirkan Kabar Gembira berarti mengamalkan nilai-nilai Injili dalam terang semangat Kristus yang dijiwai oleh cinta kasih dengan tiada henti-hentinya menjunjung tinggi perdamaian dan keadilan serentak mengabdi kebenaran sebagai satu-satunya ajaran.

Dengan demikian, Kabar Gembira merupakan situasi di mana Kristus hadir meresapi semangat hidup umat Kristiani yang tersalurkan melalui cara dan sikap hidup yang sesuai dengan amanat Injil. Kesaksian hidup setiap umat Kristiani adalah bentuk pewartaan yang paling berharga dan berarti.

Kabar Gembira bukanlah milik perorangan karena itu barangsiapa bergembira dengan keasyikannya sendiri dan berlebih-lebihan tanpa peduli dengan keselamatan sesamanya, sesungguhnya ia sedang asyik dan terusik dengan euforia egois.

Panggilan untuk mewartakan Kabar Gembira merupakan aktivitas para beriman yang patut dilakukan dalam semangat persekutuan kasih mengingat bahwa iman selalu mengandaikan persekutuan bersama Kristus. Dalam semangat persekutuan, kemajemukan adalah syarat dan kekayaan yang patut dijunjung tinggi dalam semangat cinta kasih.

Ketika cinta kasih mendasari segala pertimbangan dan perilaku, segala perbedaan, kemajemukan akan menjadi kekayaan yang tak ternilai harganya. Ketika kasih menjadi dasar bagi segala relasi, segala konflik akan mampu diatasi. Ketika keadilan mendiami segala situasi, kedamaian akan turun ibarat embun di pagi hari. Bagaikan rusa merindukan air, sedemikian itu harapan akan kegembiraan sepanjang zaman tidak boleh pupus terhimpit dan terhanyut arus tantangan zaman.

Nubuat akan berakhir, bahasa Roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap namun kasih tidak akan berkesudahan. Berimanlah dengan gembira sebagaimana tidak ada satu pun kegembiraan yang lebih besar dari keselamatan karena kasih sedemikian itu perjuangkanlah kabar gembira dengan kuat keyakinan dan kokoh iman. Zaman ini boleh berubah, kemajemukan boleh silih berganti tetapi imanmu janganlah goyah dan keyakinanmu janganlah mati. (*)

Oleh Fr. Yudel Neno

*Penulis merupakan Calon Imam Keuskupan Atambua (Tingkat VI) Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui-Kupang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here