KUPANG, fortiter news – Solidaritas Merah Putih (Solmet) NTT melalui Solmet Literasi melakukan kegiatan kampanye penyadaran publik dengan gerakan membaca kembali (membaca buku-buku kembali) lewat perpustakaan jalanan pada hari pertama ternyata menarik perhatian para pengguna jalan.

Pengunjung perpustakaan jalanan di halaman Bank Pitobi Kuanino

Gerakan membaca kembali ini di lakukan di halaman Bank Pitobi, Kuanino, Kota Kupang dimulai hari Kamis (16/8/2018) jam 5 sore hingga jam 9 malam.

Tampak ratusan buku bacaan digelar oleh Komunitas Solmet Literasi di halaman dan dikerumuni oleh para pengunjung yang datang. Ternyata kegiatan membaca buku lewat perpustakaan jalanan ini menarik anak-anak dan orang tua yang melewati ruas jalan tersebut. Daftar pengunjung yang hadir dan membaca berjumlah 67 orang terdiri dari anak-anak, mahasiswa, dan orang tua.

Buku-buku bacaan yang disiapkan oleh Komunitas Solmet Literasi terdiri dari buku-buku pelajaran dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA), novel-novel, pengetahuan umum, buku-buku agama, komik, dan majalah-majalah.

Anak-anak harus dibiasakan sejak kecil untuk membaca buku

Sebri Nitbani Guru SD Inpres Naikoten I yang sempat mengunjungi perpustakaan jalanan tersebut kepada media ini mengatakan jika dirinya mengapresiasi gerakan membaca kembali ini. Dirinya merasa senang karena kegiatan ini dilakukan di Kota Kupang untuk mengingatkan masyarakat Kota Kupang supaya kembali membudayakan kebiasaan membaca buku.

“ini sangat bagus karena memang kegiatan membaca buku yang semakin pudar perlu diingatkan dan digerakan kembali. Saya apresiasi ini. Saya berharap supaya kegiatan ini terus dibuat. Memang secara jujur diakui di sekolah sendiri anak-anak mulai malas membaca. Nah kalau di sekolah saja sudah malas membaca buku bagaimana jika di rumah atau di luar sekolah.  Apalagi anak-anak sekarang sudah langsung berhadapan dengan alat-alat teknologi,” jelas Sebri.

Rudi Ketut Utama Ketua Solidaritas Merah Putih Nusa Tenggara Timur menjelaskan jikalau pihaknya sengaja membuat kegiatan literasi lewat perpustakaan jalanan di pinggir jalan supaya dapat dilihat oleh publik dan mengajak masyarakat umum untuk membaca buku-buku yang disiapkan.

Pengunjung sedang mencari buku-bacaan di perpustakaan jalanan

“ini kami buat supaya masyarakat bisa tergerak untuk kembali membaca. Yang kami buat ini adalah ajakan. Kami mengharapkan kebiasaan membaca ini harus dihidupkan kembali di masyarakat, di sekolah, dan dirumah. Ini perlu dilakukan setiap hari terus berkesinambungan. Dengan membaca buku kita banyak mendapat pengetahuan serta memperoleh informasi yang valid,” ucap Rudi.

Rudi juga mengatakan bahwa untuk merubah kebiasaan dari yang tidak pernah membaca sangat tidak mudah oleh karena itu cara yang mudah adalah membiasakan diri membaca buku minimal 30 menit setiap hari.

Buku-buku yang digunakan dalam perpustakaan jalanan ini dikumpulkan dari setiap simpatisan dan para donatur yang berada di Kota Kupang. Proses pengumpulan buku-buku disebarkan lewat media sosial.

Menariknya dalam kegiatan gerakan membaca kembali ada tanggapan yang unik dari beberapa pengguna jalan. Meri salah satunya saat dimintai tanggapan oleh media ini, dirinya menjawab jika mereka membaca buku-buku apa yang akan panitia berikan kepada mereka sebagai imbalan.

“ini kegiatan baca buku ko. Ada hadiah ko sonde. Kalau beta baca kakak dong mau kasi apa. Sama sa kalau habis baca sonde kasi apa-apa,” jawab Meri.

Membaca untuk mengubah cara berpikir

Dalam kegiatan literasi tersebut juga dipamerkan bonek-boneka, hiasan yang dibuat dari barang-barang bekas oleh Solmet Generasi Kreatif. Gerakan membaca kembali akan dilanjutkan hari Jumat (17/8/2018) dan Sabtu (18/82018).

Mengapa harus membaca buku?

Dengan pesatnya arus informasi di era digital saat ini, tentulah tidak berlebihan jika istilah membaca sebagai jendela dunia diperluas lagi menjadi membaca adalah gerbang dunia. Maksudnya, sebagai gerbang dunia membaca tidak hanya membuka mata kita untuk melihat sekeliling secara lebih kompleks, tetapi juga dengan membaca dapat membuat kita menjadi lebih sensitif dengan hal-hal sederhana yang berpotensi menghasilkan inovasi atau pengalaman baru yang berguna bagi orang lain dan lingkungan dalam bentuk apapun.

Buku-buku ini adalah sumbangan dari para donatur yang bersimpatik dengan perpustakaan jalanan

Pada tahun 2012, organisasi dunia yang bergerak di bidang kebudayaan dan pendidikan, UNESCO, merilis data bahwa indeks membaca penduduk Indonesia adalah sebesar 0,001%. Artinya, diantara 1000 orang Indonesia, hanya terdapat satu orang yang memiliki kebiasaan membaca. dengan demikian, frekuensi masyarakat Indonesia yang gemar membaca berjumlah 2.500 orang dari keseluruhan total penduduk Indonesia yang kira-kira berjumlah 250 juta jiwa lebih. Jelaslah bangsa kita bukanlah bangsa yang akrab dengan budaya membaca.

Kenyataan yang kita temui saat ini adalah anak-anak lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama gadgetnya untuk bermain game daripada membalikan lembaran-lembaran buku untuk mencari hiburan atau informasi. Selain itu, minimnya sarana dan prasarana untuk memperoleh bahan bacaan seperti ketersediaan perpustakaan dan buku-buku juga makin menjauhkan masyarakat dari kebiasaan membaca, karena mereka lebih memilih hiburan-hiburan instant yang ada. semuanya ini berakhir pada rasa malas untuk membaca.

Panitia Pelaksana kegiatan literasi lewat perpustakaan jalanan Solmet Literasi

Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini minat baca bangsa Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain, namun hal tersebut bukanlah sebuah alasan untuk membuat kita merasa rendah diri dan melemahkan semangat kita untuk menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, sudah sepantasnya kita menumbuhkan rasa kecintaan pada budaya membaca atau literasi karena tingginya minat baca masyarakat berakibat pada kualitas sumber daya manusia yang lebih teruji. Dalam rangka menumbuhkan minat baca tersebut, setidaknya terdapat beberapa langkah sederhana yang perlu dilakukan, dimulai secara intrinsik dengan mengubah pola pikir.

Siasat lainnya yang dapat digunakan untuk membangkitkan minat baca adalah dengan menetapkan target. Dimulai berapa halaman yang harus dibaca hari ini, atau buku apa yang harus diselesaikan dalam bulan ini, kemudian berapa lama waktu yang disisihkan untuk membaca, apakah itu pagi hari ketika bangun tidur, ataukah malam hari sebelum beristirahat. Jika kita telah menetapkan target membaca dalam jangka waktu tertentu, maka secara perlahan tapi pasti kita hal ini akan berujung pada rutinitas membaca yang akan dilakukan setiap hari.

Langkah terakhir yang perlu dilakukan untuk meningkatkan minat baca adalah dengan meminta rekomendasi buku dari orang lain atau mencari buku-buku yang popular. Biasanya, kecenderungan untuk mengikuti saran orang lain terhadap bacaan yang dianggap menarik akan mendorong kita lebih bersemangat untuk membaca buku tersebut. (f61/fn)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here