KUPANG, fortiter news – Solidaritas Merah Putih (Solmet) NTT melalui Solmet Literasi melakukan kegiatan kampanye penyadaran publik dengan gerakan membaca kembali (membaca buku-buku kembali) lewat perpustakaan jalanan pada hari kedua rupanya menarik perhatian para pengguna jalan.

Ete Atasoge, Desri Ti Wadu, Iska Bere, Ira Loasana

Mereka itu adalah para gadis yang memiliki paras cantik yakni Ete Atasoge, Desri Ti Wadu, Iska Bere, Ira Loasana. Iska Bere adalah karyawan Rumah Sakit Siloam Kupang, Ethe Atasoge Produser Siaran SASANDO (Santai-Santai Dolo) di Radio Suara Kupang, Desri Ti Wadu Wiraswasta Online Shop, dan Ira Loasana yang juga Wiraswasta Elektrikal.

Baca juga https://fortiternews.wordpress.com/2018/08/17/kalau-di-sekolah-saja-anak-sudah-malas-membaca-bagaimana-jika-di-luar/

Dalam penuturan mereka kepada Fortiter News, Jumat (17/8/2018) jam 7 malam,  mereka ceritakan bahwa sebenarnya mereka mengetahui jika Gerakan Membaca Kembali yang di lakukan di halaman Bank Pitobi, Kuanino, Kota Kupang dimulai hari Kamis (16/8/2018)  sampai Sabtu (18/8/2018) jam 5 sore hingga jam 9 malam itu dari informasi yang beredar di media sosial.

“Kami tertarik untuk datang ke sini dan mau membaca di Perpustakaan Jalanan ini barangkali ada buku-buku yang bagus serta menarik. Sekalian mau cuci mata Kaka,” kata Ethe dan Ira.

Desri Ti Wadu dan Iska Bere juga menceritakan jikalau mereka berempat memiliki hobby yang sama yakni membaca buku. Mereka ternyata mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi di Kota Kupang yang juga sambil bekerja.

Saat berbincang dengan Fortiter News Nona-Nona Manis ini mengatakan bahwa saat ini minat membaca sangat kurang dan semua orang sudah nyaris melupakan kebiasaan membaca ini. Padahal dengan membaca banyak hal diperoleh.

“Saya suka baca buku makanya kalau ada uang saya akan banyak beli buku-buku bacaan. Saya suka baca buku Biografi dan pengembangan diri,” kata Ethe

“Kalau saya suka baca buku-buku novel fiksi dan non fiksi,” ucap Ira.

“ Saya sendiri suka baca-buku Horoskop, makanya saya praktikan baca karakter orang lewat teman-teman saya ini,” sambung Iska.

“Kalau saya suka baca buku-buku rohani, motivasi, dan majalah wanita,” tak mau kalah Desri sampaikan.

Suasana perpustakaan jalanan juga diminati ibu-ibu

Menurut mereka para gadis itu bahwa dari kecil di rumah mereka sudah dibiasakan dengan membaca. Sebab, dari membaca itu dapat dilatih cara bertutur dengan banyak orang, mendapat pengetahuan, menjadikannya sebagai pengalaman hidup, serta menemukan motivasi hidup.

Kepada media ini juga Ethe, Ira, Iska, serta Desri mengaku kalau mereka tidak suka baca buku lewat Hp karena merasa terganggu dengan telepon, sms, WA yang masuk. Juga radiasi HP itu membahayakan kesehatan. Menurut mereka membaca buku-buku yang dijual di toko-toko buku itu lebih nyaman.

Terkait dengan informasi hoax saat ini yang semakin bebas tersebar keempatnya mengharapkan supaya berita hoax itu harus diberantas.

“ Kami ajak masyarakat terutama orang-orang muda itu harus mencari tahu kebenarannya. Harus lebih kritis dalam memilih dan memilah informasi yang diperoleh,” ujar Ethe gadis asal Lembata ini.

Tidak lupa juga mereka menyampaikan pesan untuk dunia pendidikan supaya membuat perpustakaan sekolah itu lebih menarik dan nyaman sehingga anak-anak sekolah bisa rajin membaca, dari membaca itu menghasilkan karakter dan integritas diri yang tinggi. Sebab anak-anak sekolah lebih suka memegang HP, Gadget, dan alat elektronik lainnya sehingga perpustakaan itu menjadi ruangan sunyi. Perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah menjadi ruangan sepi dan buku-buku nyaris tidak diperhatikan lagi.

“jadi ajakan kepada masyarakat untuk membaca minimal 30 menit sehari ini kami pikir sangat bagus. Kalau dilatih dan dibiasakan akan menjadi satu kebiasaan yang baik. Kami mengapresiasi namun sayang kurang terekspos. Banyak masyarakat yang belum tahu Kakak. Saran Kami, kalau bisa di ruang terbuka contohnya Taman Nostalgia itu”. Tukas Iska.

Anggota Panitia Pelaksana Solmet Literasi saat sedang santai bersama

Ethe serta Desri memberi saran kepada komunitas Solmet Literasi supaya membuat Perpustakaan Jalanan secara berkesinambungan sehingga anak-anak yang datang membaca buku dapat terus bergabung.

Saat ditanya apakah punya pacar dan kriteria pacar yang mereka inginkan mereka serempak menjawab bahwa mereka berempat belum memiliki pacar.

“Syarat punya pacar harus berwawasan luas, kritis, rajin baca buku, dia juga harus tau baca, termasuk baca isi hati ini. kalau tidak tau baca bagaimana mau baca janji nikah,” sembari tersenyum mereka menjawab. (61/fn)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here