Di desaku ada seorang guru SD. Namanya Pak Dami. Kata mama, guru itu adalah guru mama. Guruku pula. Sudah dua puluh lima tahun Ia menjadi guru. Menurut mamaku, Pak Dami menjadi guru honor. Entah berapa gajinya. Selama itu pula selalu gagal tes PNS.

Di desaku ada seorang guru honor. Guru yang pernah mengajar mamaku, kini menjadi guruku. Kata mamaku, selama dua puluh lima tahun Pak Dami mengajar, pulang dan perginya ke sekolah selalu berjalan kaki. Entah berapa upahnya.

Di desaku ada seorang guru honor. Guru yang menjadi pendidik mamaku itu selalu memakai baju seragam yang sama. Kata mamaku, pernah suatu saat Pak Dami bercerita jika baju yang dipakainya adalah seragam negara. Seragam kebanggaannya. Seragam Korpri.

Di desaku ada seorang guru honor. Guru yang pernah membimbing mamaku itu kini menjadi guru wali ku di kelas enam Sekolah Dasar Inpres. Kata mamaku, rumah yang ditempatinya bersama lima anak dan satu istrinya itu tidak berubah sejak pertama Pak Dami datang mengabdi. Mamaku sendiri mengatakan jika Pak Dami adalah guru honor yang miskin.

Di desaku ada seorang guru honor. Guru yang pernah mengajarkan Budi Pekerti kepada mamaku ini tidak pernah mengeluh. Kata mamaku, suatu saat slip gaji honor mengajarnya jatuh, dan mama yang menemukannya. Mata mamaku tak sengaja membaca tulisan hasil mesin ketik. Gaji guruku, guru mamaku, guru honor itu berjumlah tiga ratus ribu rupiah untuk lima bulan.

Di desaku ada seorang guru honor. Guru yang pernah menampar wajah mamaku lantaran tak paham soal Matematika ini tidak pernah mengeluh. Kata Pak Dami kepada mamaku jika menjadi guru adalah panggilan suci dari Allah. Mamaku bercerita kepadaku bahwa Pak Dami sering menjual ikan kepada para tetangga untuk mencukupi hidupnya, kadang pula Pak Dami di waktu senggang mencabut rumput di kebun orang. Kata Pak Dami, semua pekerjaan itu halal yang penting dapat makan untuk hidup.

Di desaku ada seorang guru honor. Walau Menteri Pendidikan Nasional berganti dari periode ke periode, kurikulum berubah dari masa ke masa, guruku yang honor itu senantiasa bahagia. Kepada para siswa yang sudah bertambah dari generasi ke generasi selama dua puluh lima tahun, Pak Dami selalu tulus mencurahkan ilmunya.

Di desaku ada seorang guru honor. Hidupnya tetap miskin walau pun sudah mencetak sekian banyak orang-rang hebat. Mereka selalu datang saat ada pesta lima tahun sekali. Pesta Demokrasi bahasa kerennya. Di hadapan Pak Dami satu persatu berjanji untuk tidak berjanji. Mereka bersumpah akan memperhatikan nasib Pak Dami sang guru honor. Pak Dami selalu tersenyum jika mereka mulai berbicara. Saat mereka kembali ke kota lupalah mereka pada kata-kata yang ditabur di hadapan Pak Dami. Pak Dami tetap guru honor yang miskin. Sudah dua puluh lima tahun lamanya.

Di desaku ada seorang guru honor. Guru yang pernah memberikan nilai pada mamaku tetap menjadi honor. Tetap tidak bisa beli motor matic Mio GT yang keren itu atau sekedar TV 10 inchi. Di hadapan guru muda mantan anak didiknya yang sudah menjadi PNS pemilik rumah tingkat tiga, Pak Dami tetap guru honor. Pernah ada janji dari Pemerintah Kabupaten untuk dirinya bahwa akan diangkat menjadi tenaga kontrak kabupaten yang seluruh gaji ditanggung Pemkab. Namun itu tinggal kenangan, memudar bersama Bupati kami yang telah tertangkap tangan oleh KPK karena kasus suap dan gratifikasi.

Di desaku ada seorang guru honor. Guru mamaku yang sekarang guruku adalah guru biasa yang saban hari berdiri di pintu gerbang sekolah menanti kami. Mengucapkan selamat pagi sambil berjabat tangan. Guru yang lemah lembut. Guru kami ini tetap tenaga honor padahal mantan anak didiknya yang sekarang menjadi guru sama dengan dirinya mendapat sertifikasi karena keluarga pejabat. Namun guruku itu tetap sahaja.

 

*Kapuk, Jakarta Barat, kisah ini adalah pikiran liar di malam minggu, 20/10/2018, 22;06 wib.

Oleh Frids Wawo Lado

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here