Ilustrasi
Langit telah berubah rupa menjadi merah darah dan awan tidak lagi kelabu. Burung pipit yang biasa bertengger di pucuk daun labu telah berarak pulang menuju sarang. Setelah menyelesaikan tugas membersihkan rumah aku cepat-cepat masuk ke dalam kamarku. Ini sudah menjadi kebiasaanku di setiap senja setelah keluargaku menempati rumah ini.
Letak rumah yang  dibangun di ketinggian bukit yang selalu menyuguhkan keindahan pesona alam membuat aku selalu merasa nyaman untuk berada lebih lama di dalamnya.  Aku sangat mencintai kamarku karena selalu memberi inspirasi untuk berkreasi seperti menulis, melukis, serta melakukan banyak hal yang berguna. Kamarku adalah “sel of love”, penjara cinta, demikian aku selalu menyebutnya.
Aku menarik sebuah kursi yang sejak pagi tadi enggan lepas dari meja belajar dan membiarkan tubuhku bersantai di atasnya. Dengan tangan kiri menopang dagu kulepaskan mataku bebas menangkap keindahan di luar jendela. “Petani” bisik hatiku. Di dataran Sukabiktetek dengan samar-samar aku melihat para petani sudah bergegas meninggalkan sawahnya. Dengan tenasak penuh hasil panen di pundak dan di kepalanya, mereka berjalan melintasi pematang-pematang sawah, berjalan begitu cepat. Dan aku terus saja memperhatikan setiap gerak dan langkah mereka sampai benar-benar hilang di penghujung sawah.
Hal ini memang sering ku lakukan, dan ini yang sudah sudah kesekian kalinya. Namun kali ini ada sedikit yang berbeda karena jauh dilubuk hatiku ada perasaan kagum, bangga bercampur haru mengingat kedisiplinan dan kerja keras yang mereka miliki. Mereka sangat disiplin  dengan waktu meski tak ada yang harus mengontrol dan memberi perintah. Pagi-pagi benar sebelum matahari terbit mereka sudah harus bangun mengerjakan dan menyiapkan banyak hal sebelum berangkat ke sawah dan sebelum matahari itu terbenam mereka juga sudah harus berada di rumah, berkumpul dan berbagi cerita tentang hidup di hari ini bersama istri dan anak-anaknya sampai malam menghantar mereka untuk beristirahat.
Tentang kehidupan dan rutinitas para petani memang selalu menjadi perhatianku. Aku bahkan sangat sering bernostalgia dengan kehidupannya. Hal ini kulakukan karena menurutku ada banyak hal baik yang dapat ku petik untuk dijadikan modal dan model dalam hidupku, seperti kerendahan hati dan kejujuran. Para petani itu sangat jujur. Entahlah mengapa tetapi aku selalu percaya bahwa tidak hanya di Halilulik tempat tinggalku, umumnya para petani sangat jujur baik  pada dirinya sendiri maupun dengan sesama. Kejujuran inilah yang selalu memungkinkan mereka untuk mau membuka diri dan menerima sesamanya.
Sulit sekali bagiku untuk menemukan bahwa seorang yang berprofesi sebagai petani memiliki sikap egois dalam dirinya. Jika itu mungkin, bagaimana dengan kenyataan kalau aku sering melihat para petani bergotong royong dalam mengerjakan sawahnya, mulai dari membersihkan lahan, membajak, menanam hingga sampai kepada panen hasil? Dan bagaimana mungkin kepekaan untuk mau berbagi rezeki yang mereka peroleh dari hasil kerja kepada sesamanya yang berkekurangan tanpa memungut upah selalu mereka lakukan?
Para petani juga adalah orang yang rendah hati. Hal ini menjadi nyata ketika dalam banyak kesempatan saat mereka ditelantarkan dan diperlakukan tidak adil di dalam masyarakat, dipandang sebagai kaum kelas bawah dan rendah, dan diklaim sebagai hamba di dalam masyarakat, dengan tenang dan diam mereka sanggup menerima semuanya itu. Siapakah yang mampu bertahan dalam penghinaan? Siapakah yang dapat terus berdiri tegar dan mengangkat muka tanpa mengeluh saat tidak dihargai dan diberi peduli? Itu mungkin bagi mereka yang memiliki  kasih dan pengampunan yang lahir dari kerendahan hati yang sejati. Dan itulah para petani dalam doa hidupnya yang sejati kepada Sang Ilahi.
Di dalam kamarku mataku terus saja memandang tak puas ke arah hamparan sawah meskipun alam sudah menyelimutinya dengan malam dan kegelapan telah membuat buta inderaku. Inderaku boleh dikekang, tetapi jiwa dapatkah dirantai? Kegelapan menghalang inderaku tetapi tidak untuk jiwaku.  Dalam gelap jiwaku bahkan melihat  lebih terang dari pada siang karena nyala api cinta yang keluar dari wajahnya lebih benderang daripada fajar. Terang itu membuat aku dapat menyaksikan dengan lebih  jelas bagaimana para petani berjerih lelah saat mengolah sawah. Keringat dan darah yang terus bercucuran, kulit yang mulai gosong dan keriput karena terbakar terik, tubuh yang terus menahan lapar dan dahaga, serta sukacita dalam peduli yang terus ditanaminya bersamaan dengan benih pada setiap pematang sawah.
Di dalam terang itu aku menemukan banyak hal yang  tidak hanya dapat ditangkap oleh indera tetapi juga yang ada di dalam dirinya. Aku dapat melihat apa yang ada dalam hatinya. Sebuah puri dengan pintu baja  tertutup rapat dan juga sebuah puri dengan pintu emas yang selalu terbuka. Pada puri yang pintunya tertutup aku merasakan ada hawa yang panasnya dapat membunuh dan jiwaku benar-benar merasa tak tenteram dan ketakutan yang luar biasa. Di sinilah semua keegoisan, keserakahan dan ketamakan dipenjarakan.
Sedangkan pada puri pintu emas yang pintunya terbuka, aku merasakan ada hawa sejuk yang mendamaikan karena di sini bersemayam cinta yang peduli, kasih yang menghidupkan dan juga pengampunan yang mengagumkan. Dan aku merasakan kekuatan dan keagungannya. Ibarat Firman yang menjelma ia senantiasa menggairahkan dan jiwaku benar-benar merasa tenang.
Melihat puri pintu emas yang terbuka, sejenak aku bersajak:
“Dengan diam engkau membajak
tanpa mengeluh meski bermandi peluh.
Dengan diam engkau menanam
tanpa berhenti meski tubuh terbakar terik.
Dengan diam engkau memanen
dalam syukur yang tak henti. 
Siapakah yang mampu bertahan dengan tubuh yang selalu berlulurkan lumpur?
Siapakah sanggup bertahan dengan tubuh yang terus dibakar terik?
Kau rela lakukan semuanya itu dalam setiap masa
demi hidup setiap nama.
Kau ikhlaskan dirimu bergiat dalam peduli
meski tentangmu selalu tuli.
Kau adalah terang dalam gelapnya malam.
Terang yang dapat menghantar jiwa menembusi ruang dan waktu 
bahkan sampai kepada keabadian.” 
Melalui sajak itu aku kini mengerti mengapa para petani selalu menabur kebaikan.  Kebaikan itu selalu ditaburkannya karena ia sanggup memenjarakan ego, ketamakan dan keserakahannya. Itulah terang yang sejati, terang yang mampu menghapuskan gelapnya malam, terang yang telah menuntun jiwaku menembus kepada keabadian. (*)

Oleh Angelomestius Berno Laba Lejap, S. Fil

*Penulis merupakan Guru SMPK Hati Tersuci Maria Belu, NTT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here