anggota Pemuda katolik Kabupaten Kupang melakukan diskusi bersama umat dan OMK Kapela Binilaka

Binilaka, fortiternews.com – Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Kupang melakukan kunjungan ke Kapela Santo Hendrikus Binilaka, Desa Oeltua, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang pada hari Minggu (27/01/2019) pukul 08.00 wita dan membawakan koor selama perayaan Ekaristi berlangsung yang dipimpin oleh RD. Roni Pakaenoni.

Kegiatan kunjungan Ormas nasional Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Kupang ini dilakukan pada awal tahun 2019 di hadiri pengurus inti dan anggota yang berjumlah 20 orang periode tahun 2017 – 2020. Selain itu kunjungan tersebut menjadi komitmen bersama untuk melakukan konsolidasi dan memperkenalkan keberadaan Ormas nasional Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Kupang kepada masyarakat dan umat Katolik di seluruh Kabupaten Kupang, setelah melakukan Masa Penerimaan Anggota yang ke III (Mapenta III) di Desa Penfui Timur tanggal 1 dan 2 Desember 2018.

Koor oleh anggota Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Kupang sangat meriah dan menarik perhatian umat Katolik Stasi St. Hendrikus untuk turut bernyanyi dengan alunan musik piano yang dimainkan oleh pianis handal Benediktus Rivon Balun (Ben), mahasiswa semester V Fakultas Hukum, Universitas Nusa Cendana dan dipimpin oleh seorang dirigen cantik Seravina Nggebu Cornelis (Vina)seorang mahasiswi semester VII, Fakultas Hukum, Universitas Nusa Cendana.

Rani Alves (duduk diantara dua Frater), Sekretaris Pemuda Katolik Kabupaten Kupang

Romo Roni Pakaenoni sebelum berkat penutup menyampaikan terimakasih dan apresiasi untuk kehadiran Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Kupang. Romo Roni mengatakan kehadiran Pemuda Katolik dan keberadaannya diharapkan dapat memberi insipirasi kepada pemuda-pemudi Katolik untuk peduli dengan masyarakat dan Gereja dan mampu menyuarakan kebenaran yang berpihak pada orang-orang kecil.

Dominikus Wara Sabon (Mantan Pengurus Pemuda Katolik Kabupaten Kupang yang juga tokoh umat di Kapela Santo Henderikus Binilaka) menjelaskan jika umat di Kapela Binilaka menerima kehadiran segenap Pemuda Katolik dengan sukacita. Menurut Wara Sabon, hal Ini akan merupakan awal yang baik untuk merangkul Orang Muda Katolik (OMK) Binilaka yang kurang aktif.

Juliana Maria Da Fitria Florani Alves (Rani Alves), Sekretaris Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Kupang dalam sambutannya mewakili Benediktus Humau, Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Kupang yang berhalangan hadir, memperkenalkan Pemuda Katolik, Visi-Misi, dan peran serta dalam masyarakat Indonesia.

“Pemuda Katolik adalah organisasi pemuda lingkup nasional yang didirikan di negara Republik Indonesia pada tahun 1945. Pemuda Katolik bertujuan untuk meningkatkan peran serta generasi muda Katolik dalam berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila diterangi iman kekatolikan dengan tujuan bagi kemajuan Gereja Katolik dan negara Republik Indonesia.Pemuda Katolik adalah organisasi yang independen dan tidak berafiliasi kepada partai politik manapun. Kegiatan Pemuda Katolik meliputi kristianitas, intelektualitas dan persaudaraan baik dengan sesama generasi muda katolik maupun dengan sesama generasi muda Indonesia lainnnya dan peduli pada masalah-masalah kepemudaan dan kemasyarakatan. Pemuda Katolik juga berkualitas, berakhlak mulia, bermoral sesuai tujuan Negara kita adil dan makmur, yang tak kalah pentingnya adalah membangun manusia pada era globalisasi,” jelas Rani Alves.

Rani Alves juga memperkenalkan Anggota Pemuda Katolik Kabupaten Kupang yang baru diterima dalam Masa Penerimaan Anggota dan dilantik tanggal 1-2 Desember 2018 lalu serta berjumlah 63 orang. Sedangkan pengurus inti Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Kupang yang dilantik pada bulan September tahun 2017 adalah sebagai berikut, Benediktus Humau (Ketua), Juliana Maria Da Fitria Floriani Alves (Sekretaris), Ferdinandus Lafu Daos (Bendahara).

Usai perayaan Ekaristi dilakuan diskusi terbatas yang dihadiri Pengurus Kapela Binilaka, Frater Epikasmirus Kolo, Cmf, Frater Lukas Benevides, Cmf, perwakilan umat Binilaka, dan OMK Binilaka.

Dalam diskusi itu diangkat peran serta Pemuda Katolik dan Orang Muda Katolik untuk bergandengan tangan sebagai garda terdepan bangsa dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pegaruh luar yang ingin merongrong persatuan dan kesatuan bangsa, mengisi masa muda sebagai agent of change dengan belajar membina diri dalam wadah ormas Katolik melalui kegiatan pembinaan berjenjang seperti Mapenta, Kursus Kepemimpinan Dasar (KKD), Kursus Kepemimpinan Menengah (KKM), Kursus Kepemimpinan Lanjutan (KKL), Kader katolik yang baik tidak boleh anti/alergi dengan Politik sebab perubahan bangsa ini tergantung dari keputusan politik yang diambil para pemimpin bangsa ini. Dan pemuda Katolik adalah kader calon pemimpin bangsa masa depan.

Selain itu disampaikan kegiatan yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini yaitu melakukan kunjungan ke Paroki, Stasi, atau Kapela terdekat untuk memperkenalkan Pemuda Katolik dan menjalin persahabatan dengan OMK serta umat setempat. Kegiatan lain akan dilakukan setelah pemilihan umum yang akan berlangsung pada tanggal 17 April 2019 yang akan datang seperti Musyawarah Komisariat Cabang (Muskomcab, Kursus Kepemimpinan Dasar, restrukturisasi kepengurusan dan lain-lain.

Sejarah Pemuda Katolik

Tanggal 15 November 1945 Lahir Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia (AMKRI) ditengah ramainya perjuangan dan munculnya organisasi kepemudaan. 12 Desember 1949 dalam Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) lahir Muda Katolik Indonesia (MKI). Seterusnya pada Juni 1960 MKI dalam kongres di Solo diubah menjadi Pemuda Katolik yang diusulkan oleh Munajat (yang pernah menjadi Delegasi RI ke Konferensi Meja Bundar). Ketika tahun 1965, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) merajalela, Pemuda Katolik mengubah politik bersama yang lain. Semua organisasi pemuda berbaju hitam, hanya gambar di belakang yang membedakannya, salib, kepala banteng, dan sebagainya.

Dalam masa itu Pemuda Katolik kesulitan dalam membendung masa PKI. Pemuda Katolik tidak mempunyai masa banyak. Saat itu orang Katolik jumlahnya belum banyak. Timbul inisiatif untuk mendidik 50 orang anggota Pemuda Katolik secara basis Marhaen yang ditempat tersebut terdapat Marhaen. Hasilnya memang mengejutkan, Pemuda PNI berkembang pesat dengan terjunnya Marhaen Katolik tadi. Namun sayang bahwa generasi muda Marhaen yang Katolik sudah tidak sehebat dan sepaham dengan generasi muda pertama dan kedua.

Pada tahun 1922 Pastor Van Lith, dialun-alun Mangkunegara pada suatu pagi menyaksikan Padvinder Pribumi (Pramuka) sedang latihan. Pada saat itu, Pastor Van Lith merenungkan (dari catatan harian beliau) sebagai berikut : Pada saat ini anak-anak pribumi tampak jinak bagi Pemerintah Hindia Belanda, akan tetapi besok bila mereka telah dewasa pasti datang saatnya mereka akan menjadi musuh Pemerintah Belanda. Dan jika hal itu terjadi, saya akan memihak bangsa Indonesia. Nasib bangsa Indonesia yang akan datang terletak pada pemuda-pemudanya. Demikian pula nasib Gereja di Indonesia ini, terletak apada pemuda-pemuda Katolik-nya.

Nasib bangsa Indonesia yang akan datang terletak pada pemuda-pemudanya. Demikian pula nasib Gereja di Indonesia ini, terletak apada pemuda-pemuda Katolik-nya.

Bulan Agustus tahun 1923, sejumlah 30 guru bekas murid-murid Kweekschool (SGB) jaman penjajahan Belanda yang usianya 22 hingga 23 tahun mendirikan perkumpulan Katolik untuk aksi politik bagi orang-orang Jawa. Saat itu jumlah orang Katolik di Jawa sekitar 1.000 orang. Bulan Februari tahun 1925 berdiri Perkumpulan Politik Katolik Jawa. Tahun 1930 organisasi-organisasi politik umat Katolik bersatu menjadi Persatuan Politik Katolik Indonesia diseluruh Indonesia (Hindia Belanda) sebelum pecah Perang Dunia II, terdapat 41 cabang. Sejak Proklamasi Kemerdekaan hingga tahun 1966 Partai Katolik hampir selalu duduk dalam kabinet. Tahun 1948 hingga 1950 berlaku Kasimo Plan, yaitu rencana produksi pertanian selama tiga tahun yang dicetuskan oleh Bapak. I.J. Kasimo yang saat itu menjadi Menteri Muda Kemakmuran. Tanggal 1 sampai 17 Desember 1949 diadakan KUKSI. Dalam KUKSI diputuskan untuk Partai Katolik, yaitu satu-satunya partai politik di Indonesia bagi umat Katolik.

Tanggal 21 Februari 1957, diumumkan adanya Konsepsi Presiden, yaitu ide mengenai Demokrasi Indonesia yang berdasarkan Gotong-royong. Berdasarkan ide tersebut, dibentuk Dewan Nasional dan Kabinet Kaki Ampat (terdiri dari Masyumi, NU, PNI, dan PKI). Mengenai Konsepsi Presiden yang ditawarkan kepada partai-partai tersebut, NU, PSII, Parkindo, IPKI, PSI menyatakan pikir-pikir dulu, sedangkan Partai Katolik dan Masyumi dengan tegas menolak. Sejak saat itu, Partai Katolik dan Masyumi tidak pernah diikutsertakan dalam Pemerintahan (tidak ikut duduk dalam Kabinet/tidak ada umat Katolik yang menjadi Menteri). Tahun 1948 Ketua Umum Partai Katolik mengalami pergantian. Bapak I.J. Kasimo digantikan Bapak Frans Seda. Mulai saat ini Partai Katolik diikutsertakan dalam Pemerintahan lagi.

Tanggal 30 September 1965 timbul pemberontakan PKI yang kedua, yang menyebabkan Orde Lama (Orla) diganti dengan Orde Baru (Orba). Bersamaan dengan itu timbul organisasi-organisasi yang bersifat pejuang politik temporer, yaitu : Front Pancasila, KAMI, KAPPI, dll.. Sejak saat itu pula umat Katolik membentuk Front Katolik Tanpa Lubang, yaitu semua umat Katolik termasuk umat Katolik yang berorientasi Nasionalisme dan masuk dalam organisasi-organisasi Marhaen (PNI, GMNI, PERWANAR, GSNI, dll) supaya bersatu melawan gerakan Komunis yang mengadakan pemberontakan.

Tanggal 5 sampai 8 Desember diadakan Kongres X di Yogyakarta, merupakan Kongres terakhir Partai Katolik, sebab setelah itu timbul pengelompokan sosial politik menjadi tiga, yaitu : Golongan Karya Pembangunan, Golongan Pembangunan Spiritual, dan Golongan Pembangunan Materiil. Kemudian, dengan adanya Undang-undang No.5 Tahun 1973, ketiga golongan tadi menjadi GOLKAR, PPP, dan PDI. Secara resmi, Partai Katolik berfusi dalam Partai Demokrasi Indonesia bersama dengan PNI, Parkindo, IPKI, dan MURBA. Sejak saat itu kegiatan berpolitik bagi umat Katolik secara formal terdapat di dalam dua wadah, yaitu dalam PDI dan GOLKAR. Secara tidak langsung melalui kedinasan ABRI dan diangkat ke DPR (F-ABRI).

optimisme dan yakin pasti ada jalan. Inilah dorongan yang memberikan kehidupan politik gereja pada masa itu, dan hasilnya seperti apa yang kita rasakan sekarang.

 Di kediaman Bapak I.J. Kasimo, Jl. Sutan Syahril No.33 A Jakarta, tanggal 28 Agustus 1928, dilaksanakan misa dengan iringan nyanyian Gregorian untuk mengenang ibadat perjuangan mendatang (bertepatan dengan pesta Santo Agustinus) yang dipimpin oleh Mgr. Darius Nggawa (Uskup Larantuka, Flores). Acara tersebut dihadiri oleh para pengurus Yayasan Kasimo DKI Jakarta dan sebagian anggota pendiri yayasan, diantaranya Bapak Frans Seda dan Bapak Wignyasumarsono. Uskup dalam khotbahnya mengatakan : Agustinus hidup pada jaman peralihan setelah runtuhnya Kekaisaran Roma yang telah memberikan angin baik dalam perwartaan iman pada masa itu. Kiranya ada dua hal yang patut kita petik dari tulisan Agustinus, ialah optimisme dan yakin pasti ada jalan. Inilah dorongan yang memberikan kehidupan politik gereja pada masa itu, dan hasilnya seperti apa yang kita rasakan sekarang.

Visi dan Misi Pemuda Katolik

Visi

Menjadi organisasi kader yang handal bagi kaum muda Katolik dalam berkiprah untuk Gereja dan Tanah Air.

Misi

Mewujudkan kader-kader muda Katolik yang berjiwa Kristiani dan memiliki semangat Kebangsaan. (rani/fn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here