Kala ada satu kata

Lidah Cuma mampu berkeluh ingat

Senyum bak klise foto yang teratur rapi beraromakan kesederhanaan

Tak pernah ada tatapan penuh kasih laksana sinar mata seorang perempuan,

terpancar dari tubuh tangguh sepertimu

Tak pernah ada yang selembut itu

Tak habis pikir, kulit keras berahang tegas sepertimu membalut hati lembut penuh kasih

Kasih yang terpelajar dan penuh hikmat

Ya, kau belajar untuk terus menjadi seperti itu.

 

Kau lahir layaknya lelaki…

Tapi senila primitifitas tak tampak dalam sinar mata itu.

Kau dan Tuhanmu kikis habis, sampai kau benar-benar berganti kulit bak ular jantan berwarna begitu cantik.

Tak mungkin ada rasa takut, tak mungkin ditinggalkan, tak mungkin ada ketidaksetiaan, tak mungkin terdengar kasar.

Katamu: “Tuhanku mengajarkan demikian”

Batinku: “betapa hebat Tuhanmu itu”

 

Kau ciptaan-Nya tapi kau benar-benar berubah indah setiap hari.

Kau lelaki tapi warnamu indah bak bunga Desember yang kulihat dari jendela ruanganku.

Ruang yang sempit, sesak, desak dan berhimpit

 

Aku masih berproses dan itu melelahkan

Ketika harus menyadari bahwa kulitku baru terkelupas sebagian

Aku belum secantik dirimu

Tapi…

Aku bukan aku jika tidak keras kepala

Aku bukan aku jika tak terus berharap

Aku bukan aku jika tak pernah membatin: “betapabersyukurnya aku pernah berada di dekatmu”

 

Aku bersyukur pada Tuhanmu.

Yang kutanya ke sana-kemari dengan peluh penuh tanda tanya besar

Dan kutemukan bahwa Tuhanmu itu Tuhanku

Kita sama,

Selalu sama dan akan terus sama

Jika kau  mau mencariku.

 

Kupang, 13 januari 2014

Scolastika Martha Mutiara Kelly (*)

*Stupid poem maker

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here