Bunyi jangkrik bersahut-sahutan. Mataku masih belum terpejam. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30. Aku bangun dan mengambil benang dan mulai menggulungnya lagi. Tiba-tiba gulungan itu terhempas dari genggamanku saat kudengar sirine yang lewat di depan rumahku. Aku merinding, seolah aku terlempar ke dua tahun silam saat aku harus kehilangan sosok wanita hebat yaitu mama.

Mama pergi meninggalkan kami bertiga. Sebagai anak sulung, aku merasa sangat terpukul. Ayahku,sering kupanggil bapa, dia pergi meninggalkan kami bertiga sesudah empat puluh hari kematian mama. Aku saat itu yang baru berusia 16 tahun, merasa bahwa takdir telah mempermainkan aku. Adik-adikku yang belum tahu arti kepergian mama selamanya merasa bingung saat aku menangis sejadi-jadinya di depan Jenasah mama.

“ Mama, saya dengan siapa lagi mama, ade-ade saya harus mengadu di siapa mama?” Ratapanku yang masih terus aku ingat hingga kini aku berusia 18 tahun.

Aku tak tahu, bahwa penyakit mama yang selama ini terbawa dari rasa sakit hati mama terhadap cara bapa yang selama ini begitu menyakitinya. Ayah, adalah seorang pegawai negeri sipil pada  dinas pendidikan, sementara mama hanyalah ibu rumah tangga yang mengurusi anak-anaknya. Mama tidak hanya mengharapkan penghasilan ayah , dia selalu berusaha menopang ekonomi rumah tangga dengan menenun. Merajut benang demi benang dan menghasilkan selembar kain yang bisa dijual untuk menghasilkan lembar-lembar rupiah untuk mendukung  perekonomian keluarga. Keahliannya itulah yang diwariskan padaku hingga saat ini.

Ilustrasi

Kehadiran wanita berkulit putih mulus, dengan lipstik yang merah menyala, pakaian yang seksi menggoda sering ku jumpai bersama ayah ketika aku pulang sekolah. Bahkan, pernah ayah duduk makan bakso bersamanya di warung barokah yang sering aku lewati ketika aku pulang sekolah. Wanita itu yang telah merusak bahagia kami, bahagia yang bapa dan mama bangun hampir seusiaku saat itu.

“ Kakak, kenapa belum tidur?” Sebuah suara yang mengagetkan aku. Adikku Jeje. Lelaki pengganti ayah yang hebat. Dia begitu tegar ketika dia tahu yang sebenarnya bahwa mama telah pergi untuk selamanya. Pulang sekolah dia selalu mencari kayu, mencari makanan babi, dan menanam sayuran di pekarangan yang tidak begitu luas.

Sementara aku menghabiskan waktu menenun untuk biaya sekolahnya dan kebutuhan hidup kami bertiga. Demi mereka aku memilih tidak melanjutkan sekolah karena ayah sudah tidak peduli pada kami. Seolah kami bukanlah anak dari ayah. Mama yang selalu menyayangi kami. Menceritakankisah ketika dia remaja dan menceritakan legenda-legenda yang sudah mulai dilupakan oleh banyak orang.

“ Belum ngantuk. Kamu  kenapa belum tidur?” Tanyaku penasaran.

“ Saya rindu mama, tadi saya mimpi mama. Mama datang peluk saya.” Adikku meneteskan air mata. Aku tahu dia rindu pada mama,seperti aku juga. Namun, sebagai kakak sulung, aku tidak ingin membuatnya sedih, aku harus kuat. Mungkin hanya berpura-pura walau nanti aku juga akan menangis merindukan mama.

“ Kamu harus doa buat mama. Mama sudah tenang di sana. Mama sudah terbebas dari rasa sakitnya.” Kataku menghibur adikku.

“ Ini semua karena wanita itu, sampai kapanpun saya tidak akan kasi maaf dia.” Suara adikku begitu parau.

“ Tidak boleh menaruh dendam pada bapa atau pada wanita itu. Tuhan pasti akan selalu kasi kita jalan.”Tidak lama kemudian aku melihat si bungsu Maria ikut terbangun. Usianya masih sangat belia. Lima tahun. Di usia tiga tahun dia harus kehilangan mama.

“Saya tadi bangun lihat kakak tidak ada. Saya bangun sudah.” Suaranya mengalir saja. Dia seolah tahu bahwa aku tak ingin dia terbangun dari mimpi indahnya.

“ Ya sudah, ke sini.” Aku melepaskan gulungan benang dan meraih tangannya dan mendudukkannya di dalam dekapanku. Aku ciumi wajahnya, adikku sayang, aku sangat menyayangi mereka. Merekalah satu-satunya yang paling berarti.

“ Kaka, besok saya ikut lomba olimpiade Fisika. Kalau juara kepala sekolah janji akan memberikan beasiswa untuk saya.” Kata adikku dengan nada penuh harap.

“ Selama ini kamu sudah belajar, yakin saja dengan kemampuan kamu.” Aku memeluknya.

“ Kaka, saya lapar. Saya mau makan.” Kata si bungsu sambil memegang perutnya. Aku segera memberikannya ubi yang kurebus untuk makan malam. Mereka makan apa adanya. Mereka mampu menerima keadaan. Dia makan dengan lahap, dan kusiapkan air agar dia tidak tersedak nantinya.

“ Besok kaka pergi bersih rumput jagung, ada tetangga yang menyewa jasa kaka.” Kataku pelan. Aku selalu bekerja apa saja untuk menghasilkan uang selama itu halal. Demi makan, demi sekolah mereka.

“ Kalau begitu saya istirahat dulu kaka. Siapkan diri besok.” Kata adikku meninggalkan aku dan si bungsu.

Tidak lama setelah Jeje tidur,aku dan adik bungsuku segera menyusulnya tidur.

Pagi itu, saat mentari dengan cahayanya yang kemilau keemasan menerobos lewat celah dedaunan bambu di samping rumahku. Aku tengah mempersiapkan makan pagi untuk adikku. Meski hanya pisang rebus dan teh manis, tetapi mereka menikmatinya.

“ Kaka, saya jalan dulu.” Dia menyalamiku. Aku melihat penampilannya pagi ini. Ada rasa sedih dalam hatiku ketika kulihat sepatu miliknya sudah robek dan usang.

“ Sepatu kamu sudah robek.” Kataku memeluk adikku. Setetes air mata menyelinap di kedua bola mataku.

“ Tidak apa-apa kaka, ini masih bisa dipakai. “

“ Kalau hari ini kaka ada rejeki. Kaka beli kamu sepatu baru eee…” Kataku menghibur.

“ Jangan terlalu beban kaka, saya sudah bersyukur saya bisa sekolah.” Kata adikku membuatku terharu.

“ Selamat berjuang, kaka bantu doa.” Kataku kembali memeluknya.

Saudaraku meninggalkan aku dan si bungsu. Kami berdua sibuk mempersiapkan diri menuju kebun tetanggaku. Si bungsu memiliki wajah mirip ayah. Matanya, hidungnya. Tiap dia menanyakan ayah,aku selalu katakan bahwa bapa tidak ada, dia pergi merantau. Diapun sudah lupa rupa ayahku karena dua tahun dia tak lagi bertemu ayah.

Aku sesekali menggendong adikku dalam perjalanan ke kebun tetanggaku. Di tengah jalan, aku melihat ayah yang rupanya sudah tahu kehadiranku.

“ Rosa, tunggu Rosa. Bapa mau omong.” Kata ayah menghentikan langkahku.

“ Kenapa bapa? Mau buat kami sedih lagi ko bapa?” Kataku dengan nada ketus.

“ Kau mau kemana? Ambil uang ni, untuk makan kamu.”

“ Tidak usah bapa, kami bisa cari uang sendiri. Kami tidak mesti harap dari bapa.”

Saat aku berusaha melangkah pergi, sebuah suara memanggil keras nama ayah. Aku kenal, suara itu yang adalah suara wanita yang selama ini mengambil ayah dari kami.

“Oris, Oris, kau buat apa di situ? kau kasi mereka uang kah!” Teriak wanita itu dengan langkah cepat mendekati ayahku.

“ Saya hanya kasi mereka uang. Itu hak mereka. Kasihan mereka.”

“ Terus selama ini kau tidak pikir siapa yang perhatikan kau. “ Protes wanita itu merebut kembali uang dalam genggaman ayah.

“ Tanta, saya juga bukan pengemis. Saya dan ade-ade saya bisa hidup tanpa uluran tangan bapa. “ Aku menghindar dan berusaha pergi.

“ Oh bagus kalau kamu sebagai anak sadar. Saya yang selama ini urus kau punya bapa, enak-enak saja dia mau kasi uang ke kalian.” Terlihat begitu cerewet dan mendominasi, seolah dia tidak ikhlas jika aku mengambil uang dari ayahku  sendiri.

“ Tanta, kalau bicara soal tahu diri, seharusnya tanta lebih tahu diri karena merebut bapa dari mama saya. Tanta yang sudah buat keluarga saya hancur.”Kataku dengan nada meninggi.

“ siapa suruh ibu kamu tidak berpenampilan bagus.” Wanita itu berkata sinis.

“ Sudah…sudah…jangan bertengkar. Fina, kau jangan buat saya punya anak tambah beban.” Ayah mulai membelaku. Namun, aku rasa sudah terlambat. Aku akhirnya menggendong adikku yang masih tak tahu apa-apa dan pergi meninggalkan ayah dan wanita cerewet itu.

Dalam perjalanan aku terus meneteskan air mata. Adik bungsuku mengusap wajahku yang penuh dengan air mata. Aku mendekapnya dalam pelukanku.

Setengah jam aku dalam perjalanan ke ladang. Setibanya di sana, aku segera membersihkan ladang jagung milik tetanggaku. Pikiranku masih berkecamuk. Membayangkan sikap ayah yang tidak begitu serius membelaku. Dia telah dibutakan dengan kehadiran wanita berlipstik tebal yang sering dipanggil Tanta Fina.

Saat aku membersihkan ladang jagung, adik bungsuku Maria sibuk bermain. Mengejar belalalng yang meloncat mempermainkannya. Dia tertawa lepas, bermain bersama dengan binatang perusak ladang jagung milik tetanggaku. Aku hanya tersenyum saat dia menatap ke arahku. Pakayan yang dia kenakan sudah lusuh, warnanya sudah berubah, sudah pendek dan sebenarnya tak layak untuk dipakai. Namun, karena kekurangan inilah dia tetap memakainya meski dia juga tak merasa nyaman.

Tiga jam telah berlalu. Saat aku istirahat untuk minum. Tiba-tiba sebuah suara memanggilku dengan keras dibalik jalan setapak kecil menuju ladang jagung.

“ kaka Rosa, kaka Rosa” Teriak sebuah suara yang aku tahu itu suara adikku Jeje.

“ ia, kaka di sini. “ Jawabku singkat karena tubuhku yang letih.

“ kaka saya juara, saya juara” adikku berlari kencang memegang piala dan menunjukkan padaku dengan amplop berisi uang.

“ Puji Tuhan, sini peluk kaka.” Kataku menghampirinya. “Mama…lihat mama punya anak. Dia juara.” Aku menengadah ke langit. Aku yakin mama mendengarkan aku. Aku memeluk adikku. Rasa bahagia sungguh tiada terkira.

“ Kaka, uang sekolah saya sampai kelas sembilan nanti bebas. Tadi kepala sekolah omong ke saya. Saya dapat beasiswa berprestasi.” Kata adikku memelukku dengan erat. Si bungsu Maria datang dengan pakaian yang kotor dan memeluk saudaranya itu.

“ Syukurlah, Tuhan kasi kita jalan ade.” Aku mengusap kepala adikku.

“ Saya bantu kaka kasi bersih rumput jagung eee, biar cepat habis.” Kata adikku mengambil pacul di tanganku.

“ Kamu pasti lelah, istirahat saja.” Kataku mengambil kembali pacul di tangannya.

“ Tidak apa kaka, saya tidak lelah. Tadi saya makan nasi ayam. Kepala sekolah yang bayar. Ini saya bawakan kaka dengan ade juga. Kebetulan tadi saya juga diberi uang jajan.” Adikku mengeluarkan dua bungkus nasi dan memberikan padaku. Setelah itu dia mengambil pacul dan meninggalkan aku dan Maria. Dia begitu semangat. Sementara aku membuka bungkusan nasi dan menyuap adik bungsuku Maria.

Dedaunan di sekitar ladang jagung berhembus perlahan. Angin menyapu wajahku yang ditetesi peluh. Rasa lelahku terbayar dengan kesuksesan adikku. Mentari makin meninggi, aku dan kedua adikku pulang menyusuri setapak yang dipenuhi ilalang kiri dan kanan dan harapanku masih besar, berharap suatu saat bahagia yang seutuhnya dapat kunikmati bersama kedua adikku.

 

Oleh : Agustina Bate | Penulis adalah Guru di SMP St. Agustinus Langa dan penikmat sastra.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here