Warga Desa sebowuli, Kecamatan Ine Rie, Kabupaten Ngada saat membersihkan Kampung Adat Poma Leke

NGADA, fortiternews.com – Masyarakat Desa Sebowuli, Kecamatan Ine Rie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada hari Senin (15/10/2018) pukul 09.00 wita melakukan kerja bakti secara gotong royong membersihkan kampung adat atau kampung budaya di Kampung Poma Leke.

Menurut Yoseph Tote salah seorang warga Desa Sebowuli kepada Wartawan Fortiternews.com mengatakan jika kegiatan tersebut dilakukan mulai Bulan Oktober tahun 2018, setiap hari Senin dalam minggu.

“yang hadir itu adalah warga Desa Sebowuli yang sudah dibagi tugas sebanyak 40 hingga 50 orang. Ini dilakukan karena program desa lewat Musyawarah Rencana Kerja Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Kegiatan tersebut rutin dibuat untuk membersihkan kampung adat atau kampung budaya. Selain itu masyarakat dapat betah untuk tinggal di kampung-kampung adat tersebut,” jelas Tote.

Selain itu tujuan dilakukan pembersihan serta pembenahan kampung-kampung adat adalah untuk menyongsong Pesta Adat Reba yang terjadi pada tanggal 27 Desember 2018. Sebelum acara Reba dimulai akan dilangsungkan Perayaan Ekaristi bersama dan oleh karena hal tersebut warga bergotong royong menata Kampung jadi lebih indah dan baik.

Di Desa Sebowuli ada 2 Kampung adat yakni, Kampung Watu, dan Kampung Poma Leke. Untuk setiap Kampung Watu dihuni kurang lebih 41 Kepala Keluarga dan Kampung Poma Leke dihuni 16 Kepala Keluarga.

Pesta Reba

Reba seperti yang dikenal di kalangan masyarakat Ngada merupakan ritual dan perayaan pesta setiap tahun desa-desa di wilayah bagian Selatan Ngada, Nusa Tenggara Timur. Biasanya Reba diadakan akhir November hingga Februari tahun berikutnya  sesuai dengan perhitungan “adat” yang berbeda dari setiap suku atau kampung.

Reba merupakan perayaan syukur atas semua anugerah yang diterima dari Yang Mahakuasa dan permohonan berkat untuk tahun yang akan datang. Bisa dibilang Reba adalah Pesta Tahun Baru masyarakat Ngada.

Semua hal yang dianggap bisa menghambat optimisme masa depan di tahun baru perlu diselesaikan di rumah adat atau Sa-ó meze atau Sa-ó Pu-ú setiap suku atau woe. Dan ritual dan pertemuan seluruh anggota suku pada malam sebelum hari Reba  (Dheké Reba) mulai dari masalah tanah, pernikahan dan sebagainya.

Ada kemiripan dengan cerita Kitab Suci mengenai keluarnya bangsa Yahudi dari penjajahan di Mesir maka pada upacara dheke Reba. Dikisahkan asal usul orang Ngada dari tanah antah berantah. Bermacam versi dan penafsiran mengenai asal usul orang Ngada.

Ada teori yang berhipotesa bahwa asal usul masyarakat Ngada dari Yunan yaitu bagian Selatan Cina dengan mengambil  dasar argumentasi adanya beberapa nama yang kalau dikaitkan ada hubungan dengan Cina seperti Ine Sina, Guru Sina ataupun jatuhnya hari raya Reba yang hampir bersamaan waktunya dengan Imlek atau tahun baru Cina.

Ada yang menyatakan masyarakat Ngada berasal dari India. Hal itu dengan mempertimbangkan struktur sosial masyarakat Ngada yang terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu Ga-é meze (bangsawan), Ga-é kiza (menengah)  dan so-ó (hamba sahaya), selain motif pakaian adat dan kepercayaan serta pemujaan terhadap dewa-dewa yang mirip hinduismus.

Mungkin akan muncul hipotesa baru lagi yang memerlukan penelitian dan kajian anthropologi budaya. Ini merupakan peluang dan tantangan bagi para peneliti khususnya yang bergerak di bidang anthropologi budaya bahkan arkeolog.

Perayaan syukur mengawali tahun baru ini mungkin satu-satunya yang secara rutin turun temurun dilakukan masyarakat Flores. Sehingga Reba sebagai khazanah budaya dapat dikatakan merupakan ikon masyarakat Ngada, sehingga timbul pemikiran untuk didaftarkan pada lembaga kebudayaan PBB – UNESCO. Ini merupakan tambahan pekerjaan rumah bagi masyarakat Ngada sendiri untuk mendapat pengakuan internasional tersebut. (aa/fn)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here