Ilustrasi Janji

Musim yang Terhormat
Pionius sayangku
Bila engkau bertanya kepadaku, musim apakah sekarang?
Maka jawabku, ini musim kopi Arabika
Musim yang penuh dengan aroma dan kenikmatan
Ketika seteguk Arabika digauli asap tembakau maghi pame ame
Dan segelas Arabika dilumuri air sirih pine ine
Disitulah makna hidup yang sesungguhnya
Bahwa hidup adalah sebuah nilai
Sekalipun hitam memberikan aroma dan kenikmatan.

Tetapi Pionius, sayangku
Ada lagi musim yang lain, namanya musim yang terhormat
Musim yang penuh dengan bualan dan janji-janji manis
Ketika yang engkau teguk hanyalah kenikmatan semu
Dan itu adalah candu yang harus engkau sapu
Maka engkau akan mengerti bahwa hidup hanyalah panggung sandiwara
Asal engkau pandai berdinamika dan berdialektika

Pionius, musim yang terhormat akan menghasilkan banyak buah
Ada buah yang rasanya manis, pahit, asam, dan juga nano-nano
Engkau pasti kebingungan,
bagaimana mungkin satu musim bisa menghasilkan buah dengan bermacam rasa
begini ceritanya, Pionius
buah yang rasanya manis berasal dari pohon yang tidak pandai berjanji
akan tetapi akarnya penuh nutrisi empati
buah yang rasanya pahit berasal dari pohon yang kurang nutrisi empati
akarnya dikebiri sehingga banyak yang antipati
buah yang rasanya asam berasal dari pohon yang banyak akal-akalan
akarnya lapar penuh hasutan dan banyak yang jadi tidak waras
Dan yang terakhir pionius
Buah yang rasanya nano-nano, dan itu berasal dari pohon yang mabuk alkohol
Akarnya keropos penuh dengan omong kosong

Pionius, inilah realita
Hidup bukan untuk dipikirkan melainkan untuk dijalani
Rakyat banyak yang terlantar sedang yang terhormat hanya bias beri sebatas pandangan
Rakyat banyak yang sengsara sedang yang terhormat tepuk dada harus pakai data
Rakyat banyak yang miskin sedang yang terhormat abaikan hak interpelasi
Rakyat kekurangan gizi sedang yang terhormat obesitas kelebihan gizi

Pionius, hidup adalah sebuah pilihan
Kelak engkau besar dan akan mengerti mana yang akan engkau pilih
Jangan takut memilih yang hitam karena hitam tidak selamanya pahit
Dan jangan cepat tergiur dengan yang manis, belum tentu juga dia berarti
Hiduplah dengan apa adanya, asal engkau pandai bersyukur
Dan tetaplah engkau berjuang karena kehidupan akan terus berubah
Yakinlah Dewa yang menikmati hidangan arakmu akan memberimu tuntunan
Sebab yang terhormat dimata manusia belum tentu di mata Allah (*)

Kuanino, 29 September 2018

Oleh Damianus Loni (Penikmat sastra tinggal di Kupang, NTT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here