Suster Olympia Wea (Ketiga dari kiri)

Saya dihadirkan oleh Tuhan ke dunia lewat kedua orangtuaku, Gabriel dan Agnes pada tanggal 16 Februari 1975. Oleh kedua orang tuaku aku diberi nama Olympia Wea. Tempat kelahiranku adalah sebuah desa dengan cuaca yang sangat dingin. Desa ini oleh leluhurku diberi nama Nduaria. Kampung Nduaria inilah kampung tempat aku dibesarkan dan menikmati masa kecilku hingga kelas VI Sekolah Dasar. Setelah tamat Sekolah Dasar pada tahun 1988 saya melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama.

Pendidikan SMP saya tempuh di Kota Kecamatan Wolowaru, karena di kampung halamanku belum ada SMP. Ketika duduk di  bangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama seorang guru melontarkan pertanyaan padaku mengapa namaku Olympia. Kala itu saya menjawab, itu nama pemberian orangtua. Saya sendiri penasaran, mengapa guruku bertanya tentang namaku?

Liburan tiba, dan saya kembali ke kampung untuk berlibur bersama orangtua di kampung. Pada suatu kesempatan saya pun bertanya kepada bapak, mengapa memberi nama saya Olympia. Bapak kemudian menjawab bahwa Olympia adalah Ibu dari kedua anak yakni  Fransiska dan Yasinta yang mendapat penampakan Maria di Fatima. Ibu Olympia adalah seorang pribadi yang sederhana dan rajin berdoa Rosario. Ketika kedua anaknya sakit, Ibu Olympialah yang menggantikan mereka untuk berdoa Rosario.

Bapak berkata “Bapak memberimu nama Olympia karena kondisi keluarga kita waktu kamu dilahirkan sangat memprihatinkan, dalam ketiadaan dan sangat membutuhkan pertolongan dari orang lain. Bapak memberimu nama Olympia agar kamu juga meneladani hidupnya menjadi seorang pribadi yang sederhana dan rajin berdoa Rosario”. Jawaban ini menjadi bekal bagiku untuk memberikan jawaban jika ada yang bertanya mengapa namaku Olympia.

Tahun 1995 pertanyaan tentang namaku kembali diajukan padaku oleh Sr.M.Livina, KFS Pemimpin Komunitas St.Fransiskus Assisi di Raja, Flores, ketika saya bertemu dengannya mengungkapkan keinginan dan niat saya untuk menjadi seorang suster. Suster Livina bertanya mengapa namaku Olympia bukan Olivia, karena tidak ada orang kudus yang bernama Olympia. Dengan berbekalkan jawaban dari bapak, saya pun menjawab dan menceritakan mengapa sampai bapak memberiku nama Olympia. Setelah mengutarakan keinginan dan niat saya untuk hidup membiara, saya diterima sebagai aspiran, dan kemudian menjalani masa aspiran bersama dengan tujuh teman lainnya.

Hari demi hari sebagai teman-teman yang memiliki niat dan cita-cita yang sama, kami hidup bersama, doa bersama, belajar bersama dengan penuh suka cita, namun satu persatu kemudian pamit dan melanjutkan cita-cita mereka bukan sebagai calon suster lagi. Dan pada tahun 1996 dari kami tujuh orang, hanya dua orang yang melanjutkan pendidikan sebagai Suster dalam jenjang Postulan di Sambas, Kalimantan Barat. Kami kemudian menjalani masa Postulan bersama dengan para Aspiran asal Kalimantan Barat.

Tahun 1996, ketika kami akan diterima sebagai Novis, kami diberi kesempatan untuk memilih nama dengan membaca riwayat orang kudus. Karena belum ada suster yang menggunakan nama Olympia, saya bermaksud untuk tetap memilih nama biarawati saya adalah Olympia. Saya kemudian bertemu dengan P. Modestus, OFMCap dan bertanya tentang riwayat hidup St. Olympia. Beliau memberikan buku riwayat Orang Kudus untuk dibaca.Saya pun kemudian menemukan riwayat orang kudus dengan nama St. Olympias, bukan Olympia. Riwayat hidupnya pun berbeda dengan riwayat hidup Olympia yang saya ketahui. St. Olympias adalah seorang janda, cantik, kaya dan baik hati. Olympias, tabah dalam berbagai penderitaan, penyayang, menyayangi semua orang sekalipun orang itu memusuhinya. Olympia memang bukan seorang kudus yang dirayakan dalam Gereja Katolik.

Berpegang pada pendirian untuk tetap menggunakan nama Olympia, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajukan nama Biarawati kepada pembimbing Postulan. Ketika ditanya mengapa menggunakan nama itu, saya memberi jawaban bahwa saya mencintai nama itu, walaupun nama itu bukan nama orang kudus yang dirayakan. Dan saya pun mempertanggungjawabkan riwayat orang kudus yang saya baca adalah St Olympias. St Olympias lah yang merupakan nama pelindung saya, tentu dengan segala keutamaannya yang patut saya teladani, dan Ibu Olympia walaupun belum dinyatakan sebagai orang kudus, tetapi bagiku dia juga mempunyai keutamaan yang patut saya teladani yakni pribadi yang sederhana dan rajin berdoa rosario. Namaku memang menimbulkan pertanyaan ketika berkenalan dengan orang lain, hehe..kadang juga menjadi bahan candaan pik..pik olimpik. Saya tersenyum saja..dan kalau ada kesempatan untuk memberi penjelasan saya pun katakan tentang namaku.

15 Januari 2017, saya mengikuti Seminar Selfie Writing for Autentic Personal Branding yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni SMA Kolese De Britto Chapter Kalbar dengan Coach Writer A.A. Kunto A. Dalam seminar, tentunya saya mendapat pengalaman baru, ilmu baru dan juga teman baru.  Dengan sedikit canda pembicara juga mengatakan bahwa suster juga perlu selfie. Dalam penjelasannya, yang dapat saya petik adalah bahwa selfie itu menulis tentang diri sendiri, dilakukan oleh diri sendiri untuk orang lain.

Selfie, yang pertama adalah wajah, dan yang kedua adalah alam dan background lainnya. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa kita perlu menjadi penulis, menulis tentang diri sendiri dan background lainnya (alam sekitar dan objek lain yang kita alami). Kita menulis tentang diri sendiri dan aktivitas kita yang bermanfaat bagi orang lain. Tulisan kita juga harus bermanfaat bagi orang lain.

Dengan kata lain, kita menulis tentang diri sendiri dan aktivitas kita yang bermanfaat bagi orang lain. Yang saya ketahui selama ini selfie adalah foto diri sendiri. Pembicara memberi contoh bahwa foto juga merupakan bahasa. Beliau memberikan penjelasan bahwa jika hanya melihat foto saja orang belum tahu tentang diri kita, tetapi ketika kita menulis mungkin tentang mata, orang akan lebih mengenal siapa diri kita, bagaimana sebaiknya ketika berkomunikasi dengan kita, ataupun keinginan, dan harapan kita.

Ketika seminar berakhir, oleh panitia kami diberi kesempatan untuk menukarkan kupon dengan buku. Semua peserta mendapat sebuah buku dengan judul “Selfie Writing for Autentic Personal Branding” sama dengan tema seminar. Ketika hendak kembali ke rumah masing-masing peserta bersalaman dengan Coach Writer sambil meminta kenangan lewat tanda tangan pada buku tersebut. Tak terkecuali saya. Ketika bersalaman, kembali pertanyaan tentang namaku dilontarkan oleh Coach Writer, “Kok Olympia, adakah orang kudus yang bernama Olympia? Bukankan Olympia itu nama dewa?”  kembali saya memberi jawaban mengapa saya memakai nama Olympia.

Saya seperti disadarkan bahwa setiap kali orang bertanya tentang namaku saya terus diingatkan tentang keutamaan St Olympias dan Ibu Olympia. Saya pun kemudian teringat akan doa Pak Kunto walaupun lewat candaan, dalam seminar yang telah berakhir, doanya  agar aku tetap jomblo seumur hidup. Hehe.. Ku beri kenangan Jomblo dan Rosario. Karena dalam candaan itu pak Kunto mengatakan kalau beliau mendoakan orang lain yang bukan sebagai suster pasti akan sedih, tetapi ketika beliau mendoakan suster untuk jomblo, tentu suster akan bersyukur dan berdoa Rosario tiga hari, tiga malam.

Saya tersentak mendengar candaan itu, dan sungguh saya disadarkan akan keutamaan ibu Olympia yang rajin berdoa Rosario. Semoga saya menjadi pribadi yang terus berusaha dalam jatuh dan bangun untuk tetap meneladani keutamaan hidup dari St. Olympias dan Ibu Olympia. Menjadi pribadi yang sederhana, rajin berdoa Rosario, baik hati,tabah dalam berbagai penderitaan, penyayang,  yang menyayangi semua orang sekalipun dimusuhi. (*)

 

Oleh Suster Olympia Wea, KFS

*Penulis adalah Biarawati dan tinggal di Kalimantan Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here