Maria (Osin) Lengari saat menjabat Satu Hari Menjadi Menko Bidang Kemaritiman

JAKARTA, fortiter news – Kabinet Kerja Pemerintahan Jokowi dihiasi muka baru. Posisi Menteri Koordinator Kemaritiman tak lagi dipegang oleh seorang Luhut Binsar Pandjaitan yang tekenal garang. Justru, perempuan manis, berambut ikal asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memegang kendali Kementerian Koordinator Kemaritiman.

Gayanya yang nyentrik dengan blazer pink yang sedikit terlihat keberatan tak kalah dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti atau Menkeu Keuangan Sri Mulyani. Ia bahkan memimpin rapat antar kementerian yang berada di bawah koordinasi Kemenko Kemaritiman.

Namun kehadirannya masuk kabinet dan menggusur seorang Luhut Binsar Pandjaitan mengagetkan awak media. Tapi kapan dia dilantik Presiden Joko Widodo? Ya, tentu saja itu tak pernah terjadi.

Kamis (11/10/2018), barangkali akan menjadi hari yang tak bisa dilupakan Maria Lengari, siswi SMP Swasembada, Hadakewa, Lembata, NTT itu. Ia diberikan kesempatan yang langka menjadi Menko Kemaritiman sehari.

Maria atau biasa dipanggil Osin, merupakan pemenang kompetisi kepemimpinan oleh Yayasan Plan International Indonesia (YPII).

Seperti dikutip dari siaran pers Kemenko Kemaritiman, kompetisi ini digelar untuk memperingati Hari Anak Perempuan sedunia yang diperingati setiap tanggal 11 Oktober. Oleh karena itulah, Osin diberikan pengalaman untuk menjadi seorang pemimpin di suatu kementerian dalam sehari.

Maria Lengari saat memimpin rapat

Tak hanya duduk di kursi dan meja tempat Luhut bekerja, Osin bahkan mengawali harinya bak seorang menteri. Kamis pagi, Osin memulai aktivitas di kediaman Menko Maritim di kawasan Widya Chandra. Ia lalu bergerak ke kantor Kemenko Bidang Kemaritiman menggunakan mobil dinas Luhut didampingi seorang sopir dan ajudan layaknya seorang menteri.

“Saya sangat senang dan bangga hari ini bisa bisa belajar dan mendapatkan pengalaman baru sebagai Menko Maritim,” kata Osin.

Banyak harapan yang ia sampaikan. Misalnya saya soal soal transportasi di daerahnya NTT.

“Di daerah kami, jalanannya masih belum terlalu bagus. Enggak aspal, hanya tanah. Di situ biasa kendaraan lalu-lalang jadi menimbulkan debu yang bisa mengganggu kesehatan juga. Kalau kami ke sekolah, kadang sesak napas gara-gara terlalu banyak menghirup debu,” lanjutnya.

Osin bercerita, jarak dari rumahnya ke sekolah sekitar tiga kilometer. Dia mesti bangun pukul empat subuh karena harus berjalan kaki menuju sekolah. Alhasil, dia kadang tidak dapat belajar dengan baik sebab sudah kecapekan.

“Anak-anak yang tinggal sama nenek dan kakek mereka itu, mereka enggak sekolah. Karena membiayai kebutuhan hidup mereka aja susah, apalagi untuk membiayai sekolah mereka. Jadi mereka mutusin untuk kerja. Kerjanya itu biasa pergi mancing, kemudian dapat ikan, jual,” tutur Osin.

​Sepulangnya nanti ke Lembata, Osin akan bercerita kepada keluarga dan teman-temannya bahwa menjadi menteri itu tidak gampang dan penuh kesibukan.

Osin mengakui di daerahnya masih banyak pekerja anak karena mereka tidak bersekolah. Sebab orang-orang tua mereka banyak yang bekerja ke luar negeri, seperti Malaysia. Dan anak-anak mereka dititipkan ke kakek dan nenek mereka.

Ia harap Kementerian Perhubungan bisa menyediakan transportasi yang nyaman untuk perempuan dan anak perempuan di NTT, termasuk transportasi antar pulau.

“Selama ini mereka naik truk, angkot atau perahu yang sudah usang bahkan jalan kaki,” kata siswi kelas 9 ini.

Ia juga meminta agar tak ada lagi anak-anak yang tak sekolah dan justru terlibat dalam kegiatan kerja beresiko. Osin berharap pariwisata di NTTmemberikan dampak kesejahteraan bagi orang-orang di kampungnya.

Luhut yang sedang sibuk dengan acara pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali, menyampaikan harapan dan kebanggaannya kepada anak-anak yang mengikuti kegiatan yang dijalani Osin. Luhut menilai anak-anak perempuan Indonesia memiliki potensi yang baik dan dapat terus dikembangkan untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang.

“Tugas kita semua adalah memberikan kesempatan dan kesetaraan untuk anak-anak perempuan ini agar bisa maju dan tampil, sehingga mereka bisa terlibat dalam perubahan terutama memperjuangkan hak-hak anak,” kata dia. (red/kompas.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here