Pagi itu seperti biasa saat angin mengganggu dedaunan di rumpun bambu di sudut kampung ,gemericiknya menimbulkan kegaduhan sehingga yang masih terbuai mimpi akan terbangun dan ingat bahwa hari ini hari minggu. Hari dimana setiap insan yang meyakini Yesus harus ke Gereja untuk merayakan liturgi.

Polus  masih tidur di bawah selimut menutupi wajahnya. Pagi adalah waktu yang menyebalkan buatnya. Terdengar olehnya seretan sendal jepit yang tidak asing lagi. Siapa lagi kalau bukan mamanya.

“ Polus, bangun sudah mau ke Gereja.” Sebuah suara yang mengagetkannya. Suara dari mamanya.

“ Aiiihhhh mama, saya Misa kedua.” Jawab Polus dengan seenaknya.

“ Nanti kau tidak Misa, kau alasan saja. Bangun sudah.” Mamanya membangunkan Polus dengan sedikit kasar. Lelaki berusia 10 tahun itu segera bangun dan dengan malas mempersiapkan dirinya.

“ Cepat sudah, ambil handuk. Sabun, mama ada taruh di atas bak. Kau mandi cepat sudah” Perintah mamanya dengan suara yang meninggi.

“ Mama saya malas mandi, masih dingin. Nanti saya bisa flu.” Polus mulai mencari alasan. Mamanya sudah tak tahan dengan alasan Polus. Dia segera mempersiapkan anaknya ke gereja. Mulai dari mandi sampai pergi tukar pakaian. Namun, agak terburu-buru sampai sendal kaki kanan polus tidak begitu bersih karena terlihat kukunya masih dipenuhi kotoran sisa dia main di lubang bekas galian batu merah milik tetangganya.

“kau ini hanya buat kita terlambat saja” Kata mamanya sambil terus menggosok sabun ke tubuh Polus.

“ Mama, jangan marah-marah kalau mau ke Gereja.” Polus mengingatkan mamanya yang masih menggerutu akibat ulahnya.

Mendengar anaknya berkata demikian, dia diam beberapa saat. Akhirnya mereka siap dan mulai ke gereja.  Dalam perjalanan mereka melangkah dengan cepat, secepat jarum jam yang berputar mengingatkan insan bahwa  teruslah  melaju mengikutiku.

Sesampainya di sana, perayaan Ekaristi baru saja dimulai. Mama Polus bernafas lega saat tahu bahwa dia belum terlambat. Polus masuk ke Gereja mengikuti mamanya. Mereka pun mulai terdiam dan mengikuti Misa yang dipimpin oleh Pastor paroki setempat.

saat hendak Selesai Polus terlebih dahulu meninggalkan Gereja sebelum lagu penutup. Hal ini membuat mamanya kesal. Dia menunggu mamanya di luar.

“ Heee Polus, belum selesai Misa kau sudah keluar.” Bentak Mamanya.

“ Ah mama, kan sudah selesai tinggal lagu penutup saja. “ Jawab Polus dengan santai.

“ Kau ni selalu saja banyak alasan ko.” Mamanya kelihatan kesal.

“ Mari sudah kita pulang. “ Ajak mamanya menarik tangan Polus.

Mereka berdua pergi, meninggalkan wajah-wajah asing yang tidak dikenal Polus. Wajah-wajah keriput, wajah-wajah yang dihiasi bedak bermerek sampai Viva nomor lima, wajah anak-anak gadis dengan gaunnya bak Cinderella. Semuanya terasa mengesankan dalam penglihatan Polus. Dia tiba di bibir gerbang Gereja dan mamanya berhenti sejenak saat ada seorang ibu yang memanggil menghentikan langkah mamanya. Ibu yang menghampirinya bertubuh gemuk.

“Tunggu sebentar. Saya mau tanya. Ai saya dengar katanya kamu di kampung ada yang hamil karena rebut orang punya suami ko?” Tanya Ibu yang berperawakan gemuk itu pada mamanya Polus. Polus terus melihat bibir dari ibu tadi dengan heran. Dalam benaknya dia berpikir bahwa sungguh ini tak masuk akal.

“ Ia, memang benar. Itu yang rumahnya di tengah kampung. Itu kami sudah dengar dua hari lalu.” Kata mamanya Polus membenarkan.

“ Mama, memangnya bolehkah kalau kita omong orang punya nama? Saya punya Ibu guru bilang kalau kita tidak boleh omong orang punya nama. Apalagi kita baru pulang misa.”

“ Aduh, ini anak ni…” Kata Ibu berperawakan gemuk itu sambil mencubit lengan Polus dengan gemas.

“ Ahhhh Polus, kau duluan saja. Ini urusan orangtua. Anak kecil tidak boleh ikut campur.”Kata mamanya sambil mengusir Polus.

“Mama, kalau mama omong terus orang punya nama, sama saja mama doa ini hari Tuhan tidak berkat.” Kata Polus lagi.

“Kau ini bikin pusing saja. Pulang kau…pulang…cepat sudah” Usir mamanya.

Rupanya mamanya tidak peduli pada Polus yang terus mengoceh ketika meninggalkan ibunya di bibir pagar Gereja. Mereka masih asyik bergosip. Sementara Polus hanya bisa menatap mamanya dengan heran. Dalam hati dia berpikir, kalau apa yang guru ajarkan berbeda dengan apa yang dia lihat.

Dia terus melangkah sampai sosok mamanya tak terlihat lagi. Sinar mentari makin gagah di tengah kerumunan orang yang meninggalkan Gereja. Dia terselip di sana. Hembusan angin membuatnya tersenyum sinis membayangkan apa yang baru saja saksikan.

 

Langa, Minggu 23 September 2018

Oleh Agustina Bate

*Penulis adalah Guru di SMP St. Agustinus Langa dan penikmat sastra

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here