Ilustrasi

Selasa, 23 Oktober 2018: Hari Biasa, Pekan Biasa XXIX: PF S. Yohanes dari Capestrano, Imam

Bacaan Injil: Luk 12:35-38
“Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.Hendaklah kalian seperti orang yang menanti-nantikan tuannya pulang dari pesta nikah, supaya jika tuannya datang dan mengetuk pintu, segera dapat dibukakan pintu. Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya sedang berjaga ketika ia datang”

Refleksi :
Salah satu kata kunci yang perlu menjadi pegangan setiap pengikut Kristus adalah Berjaga-jaga. Kita berjaga-jaga dengan cara apa dan terhadap apa?

Cara pertama , Hendaklah pinggangmu tetap terikat. Kita lihat sejenak arti pinggang terikat: Pinggang berikatkan kebenaran. Pada zaman Alkitab, para prajurit mengenakan sabuk, atau ikat pinggang, dari kulit yang lebarnya 5 sampai 15 sentimeter. Menurut beberapa penerjemah, ayat itu bisa juga berbunyi, ”dengan kebenaran bagaikan sabuk yang mengikat erat pinggangmu”. Sabuk prajurit berguna untuk melindungi pinggangnya, dan menjadi tempat yang cocok untuk menggantungkan pedang. Sewaktu seorang prajurit mengikat pinggangnya, ia sedang bersiap-siap untuk bertempur. Paulus menggunakan sabuk prajurit untuk menggambarkan sejauh mana kebenaran Alkitab hendaknya mempengaruhi kehidupan kita. Sabuk kiasan itu hendaknya terikat kencang pada diri kita, sehingga kita hidup selaras dengan kebenaran dan dapat membelanya setiap saat. (Mazmur 43:3; 1 Petrus 3:15) Untuk itu, kita perlu mempelajari Alkitab dengan rajin dan merenungkan isinya. Yesus menaruh hukum Allah ’di bagian dalamnya’. (Mazmur 40:8) Oleh karena itu, sewaktu para penentang menanyainya, ia dapat memberikan jawaban dengan mengutip Tulisan-Tulisan Kudus di luar kepala (Matius 19:3-6; 22:23-32).

Terhadap apa dan siapa? Menurut Santa Teresia dari Avila ada 3 musuh utama dalam ziarah rohani kita: iblis, dunia dan daging. Iblis menyerang kita dengan berbagai cara, termasuk bergaya Malaikat. Ia menyerang kelemahan yang paling rapuh. Setelah kita terbuai dan mabuk dengan kenikmatan itu, Ia berhenti bekerja. Toh kita sudah terbiasa dengan kelemahan. Tentang Dunia, Teresa tidak mengajarkan kita untuk membencinya, ia hanya meminta kita waspada dengan pesona dunia yang mengerdilkan daya rohani kita. Misalnya, katanya:” Ada orang karena uang tidak peduli dengan kehormatan dirinya, dan ada orang karena kehormatan diri sangat mengabaikan uang “. Terakhir, yaitu Daging. Hal ini berkaitan dengan nafsu dan keinginan palsu untuk kepuasan diri. Dan setiap orang memiliki kesenangan tertentu untuk memenuhi keinginan dagingnya.

Cara kedua , pelitamu tetap bernyala. Secara rohani, pelita bernyala berarti pertama, adanya daya rohani kita seperti:cinta, kerendahan Hati, pengampunan, dll, sehingga kita dapat menerangi sesama yang kurang cintanya atau selalu dalam kebencian, juga cahaya kita dapat memberi ketenangan bagi yang sedang mencari identitas dirinya. Kedua, pelita yang bernyala memberi penerangan selain bagi diri sendiri, juga bagi sesama agar dapat terhindar dari “tabrakan “ dengan rintangan di depannya.

Siapa yang paling butuh pelita yang bernyala? Pertama , diri Kita sendiri. Ini bisa terjadi ketika kita kehilangan kebaikan, kebenaran dan keindahan. Dunia kita menjadi gelap. Kita kehilangan arah. Bahkan tersesat dan terluka. Santo Yohanes dari Salib menulis:” di malam gelap, waspadalah karena kita akan terluka dan sakit ketika kita salah menyentuh “. Kedua , sesama sangat membutuhkan pelita yang bernyala. Daya rohani kita harus menerangi ia sampai ke lorong diri paling sulit sehingga ia bisa berada pada jalan pulang yang tepat. Sesama yang sedang dalam kegelapan butuh cahaya cinta, kerendahan hati dan pengampunan, agar ia mengenal kembali apa yang baik, benar dan indah.

Pesan :

pertama , Kita sering menemukan diri kita di persimpangan jalan, tidak tahu jalan mana yang harus dipilih, jalan mana yang harus dilalui; ada begitu banyak jalan yang salah… begitu banyak ambiguitas. Di saat seperti ini, jangan lupakan bahwa Kristus…selalu dan satu-satunya jalan yang paling aman, jalan yang menuju pada kebahagiaan yang penuh dan abadi.” – santo Yohanes Paulus II.

Kedua , Lebih baik menerangi orang daripada hanya sekedar bersinar, membawa orang kepada renungan akan kebenaran daripada merenung.” – St. Thomas Aquinas. Amin.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati.
P. Abdul Ocd (Pastor dan Biarawan tinggal Biara Karmel OCD San Juan Kupang, NTT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here