Kamis, 25 Oktober 2018: Hari Biasa, Pekan Biasa XXIX

Bacaan Injil: Luk 12:49-53
“… Kalian sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan! Bukan damai, melainkan pertentangan! Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, bapa melawan puteranya, dan putera melawan bapanya, ibu melawan puterinya, dan puteri melawan ibunya, ibu mertua melawan menantu, dan menantu melawan ibu mertuanya.”

Refleksi :

Dahulu, persekusi terhadap para pengikut Yesus terjadi karena kesetiaan mereka mengakui Yesus adalah Tuhan. Perpecahan pun terjadi di antara orang Israel, termasuk di antara keluarga mereka sendiri karena perspektif yang berbeda terhadap Yesus dan ajaranNya itu. Pada bagian awal dari Injil hari ini, Yesus mengatakan bahwa “Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu tetap bernyala “. Koneksi api dengan pertentangan/perpecahan dapat kita pahami secara simpel demikian: api melambangkan purifikasi dan transformasi.

Proses purifikasi/pemurnian itu melalui pertobatan, kasih, pengampunan, dan lain lain. Orang bisa berubah justru karena manusia lamanya ditransformir dengan kualitas Injili tadi. Hasilnya: sombong jadi rendah hati, pendendam jadi pemaaf, pemarah jadi peramah, kasar jadi lembut, dsb. Sebaliknya, jika api itu padam, maka sangat riskan terjadi pertentangan dalam kebersamaan. Bahkan klan keluarga menjadi terputus dan hancur hanya karena sentimen religius yang berbeda. Inilah yang dimaksudkan Yesus dalam wejanganNya hari ini.

Pesan : 

persekusi dahulu telah lewat. Kemartiran pun menjadi berbeda dalam jenisnya. Singkat saja, kini, kita yang masuk dalam Klan keluarga Yesus berhadapan dengan persekusi jenis baru, seperti: sekularisme (usaha untuk memisahkan nilai-nilai agama dari institusi pemerintah), konsumerisme (pemakaian barang-barang produksi secara berlebihan dan tidak sepantasnya serta memonopoli produksi utk kepenuhan hidupnya saja), relativisme (menganggap semua sama saja, pokoknya setiap orang memiliki kebenarannya masing-masing), dan yang tidak kalah popular adalah persekusi politeistis : jika agama tidak memberi kedamaian, kepuasan rohani maka orang lari ke perdukunan, majik, hipnotis, narkoba, dll. Menangkalnya? “Nyalahkanlah selalu api Roh Kudus “. Semoga.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati.
P. Abdul Ocd (Pastor dan Biarawan tinggal di Biara Karmel OCD San Juan Kupang) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here