Kamis, 04 Oktober 2018:Hari Biasa, Pekan Biasa XXVI: PW S. Fransiskus dari Assisi 
 Bacaan Injil: Luk 10:1-12 
“Pada waktu itu, Tuhan menunjuk tujuh puluh dua murid. Ia mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya… “
Refleksi :
Tuhan mengutus tujuh puluh dua murid. Kita menyebut mereka sebagai misionaris. Tak sendirian, juga tidak menjadi single fighter untuk suatu Misi Suci. Mereka diutus berdua-dua, bukan untuk menjadi ganda terbaik dalam sebuah turnamen antar Kota melainkan menjadi rekan yang memenangkan Hati umat dengan damai, kasih serta pengampunan. Gerak utama pewartaan mereka yakni: Sharing tentang damai yang berasal dari Yesus. Artinya, Injil diwartakan untuk mentransformasi/mengubah hidup umat agar makin mengenal Yesus baik secara personal maupun kolektif.
Kalimat awal dalam teks Injil hari ini, jika kita perhatikan dengan saksama, Penginjil tidak menyebut nama-nama dari ketujuh puluh dua murid itu. Artinya, nama-nama itu adalah nama kita sendiri, yang bersedia secara bebas mengikuti Dia dan siap secara tulus diutus oleh Dia sendiri.
Bagaimana dengan sistem perekrutannya? Kala itu, media sosial paling popular adalah ‘kesaksian’ hidup dan cerita dari mulut ke mulut. Kesaksian hidup Yesus sendiri dan para muridNya disertai daya Roh Kudus menyentuh hati ketujuh puluh dua murid untuk masuk dalam komunitas misionaris.
Mereka yang diutus ini, menurut Injil memiliki beberapa syarat:
– Siap diutus ke semua tempat, artinya, siap melewati batas kultur dan teritori.
– Siap menghadapi tantangan. Dalam bahasa Yesus sendiri: ibarat domba yang diutus ke tengah serigala.
– Tidak terikat dengan barang-barang bawaan. Ada kelepasan dengan sesuatu yang memenuhi kebutuhan fisiknya.
– Tidak terpancing dengan ajakan, ajaran, cara hidup orang lain selama perjalanan. Artinya, perlu hening dan konsisten dengan tujuan perutusan.
– Siap memberi Salam Damai.
– Siap menyesuaikan diri dengan keadaan setempat. Artinya, tinggal dalam budaya setempat, bukannya menjaga jarak atau melarikan diri atau mencari kenyamanan hidup.
– Siap menyerukan pesan dari Tuhan: kerajaan Allah sudah dekat “. Artinya, Firman Tuhan yang ditonjolkan bukan cerita seputar diri sendiri.
 Pesan : Kita direkrut Yesus sesuai dengan tugas dan panggilan hidup kita masing-masing. Maka, mari kita menjadi saksi Kristus yang membawa damai bagi sesama terdekat kita. Kata-kata damai itu bukan sekedar penghias dinding Facebook atau status WhatsApp kita, dll, melainkan damai itu adalah hidup kita sendiri. Amin.
 Selamat pagi dan Tuhan memberkati.
P Abdul Ocd
(Pastor Dan Biarawan Karmel OCD tinggal di Biara Karmel OCD San Juan Kupang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here