ilustrasi

Senin, 22 Oktober 2018: Hari Biasa, Pekan Biasa XXIX

Bacaan Injil: Luk 12:13-21
“Kata Yesus kepada orang banyak itu, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan! Sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari pada kekayaannya itu… Tetapi Allah bersabda kepadanya, ‘Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu. Bagi siapakah nanti apa yang telah kau sediakan itu? Demikianlah jadinya dengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Refleksi :
Memento mori atau memento vivere? Ingatlah akan mati atau ingatlah akan hidupmu?
Merenungkan teks Injil hari ini, kita dapat menemukan beberapa gagasan dasar untuk menjawab pertanyaan di atas.

Pertama , ketamakan membuat seseorang lebih banyak bergerak secara instingtif. Ia tidak peduli soal proses dan efek. Yang penting adalah hasil yang harus dinikmati. Oleh Paus Fransiskus, ketamakan membuat orang lekat dengan uang, harta atau kekayaan. Cara mendapatkannya pun melalui tindakan serakah. Itulah sebabnya ketamakan berkaitan erat dengan egoisme dan kelekatan. Paus mengingatkan bahwa banyak keluarga: suami dan istri, kakak dan adik, serta famili lainya menjadi hancur dan terpecah-pecah karena ketamakan dan kelekatan terhadap uang dan harta lainnya. Menangkal ketamakan ini, orang beriman perlu keberanian untuk memiliki daya rohani “kelepasan “. Daya ini memampukan orang bergerak bukan saja instingtif melainkan juga reflektif.

Kedua , manusia meminta keadilan. Ini isu umum. Apalagi soal pembagian harta gono-gini. Yesus malah mau dilibatkan untuk pembagian harta. Tetapi Yesus memberi reaksi secara berbeda bahwasannya pembagian harta itu akan berpotensi konflik batin, konflik pikiran termasuk miskomunikasi. Karena itu, Ia memproses orang yang meminta pembagian harta itu dengan memakai via purificativa atau jalan pemurnian. Artinya, keadilan itu bukan pada pembagian harta, melainkan pada Kehendak Tuhan untuk memberikan harta surgawi. Harta ini berbentuk sukacita dan cinta Kasih. Dua hal ini membuat orang beriman luput dari ketamakan dan kelekatan.

Ketiga , kebahagiaan itu bukan terletak pada banyaknya harta yang kita miliki melainkan pada membangun persahabatan yang intim dengan Tuhan dan sesama. Yesus memberi peringatan keras: ‘Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu. Bagi siapakah nanti apa yang telah kau sediakan itu? Demikianlah jadinya dengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah.” Artinya, jika yang kita pikirkan cuma harta dan kenikmatan untuk diri sendiri, yang pasti kita tidak punya waktu untuk Tuhan dan sesama. Waktu kita terbatas, hidup pun demikian. Makin jelaslah, ketamakan adalah keadaan gagal paham terhadap nilai dari kehidupan dan kekayaan.

Pesan : Memento mori atau memento vivere? Tentu dua-duanya. Mengingat kematian kita berarti mengerti bahwa kita tidak dapat hidup kekal dengan harta yang ada. Semua harta itu ada batasnya. Sedangkan mengingat hidup berarti mengerti bahwa hidup adalah anugerah Tuhan dan ada bersama orang lain. Jadi, apa itu keadilan dalam pembagian harta gono-gini versi Injil hari ini? KITA MENDAPAT HARTA YANG ADIL DARI TUHAN SESUAI HAK KITA SEBAGAI ANAK ALLAH DAN KITA MEMBERIKAN KEPADA ORANG LAIN APA YANG MENJADI HAKNYA DENGAN CINTA DAN KETULUSAN. Amin. (*)

Selamat siang dan Tuhan memberkati.
P. Abdul Ocd (Pastor dan Biarawan, tinggal di Biara Karmel OCD San Juan Kupang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here