Ilustrasi

SUDAH lama sekali, Liu tidak berkontak dengan keluarganya. Jaringan telkomsel di kampung halamannya setahun terakhir mampet. Kabar yang diterima dari Nue sahabat sekolah dulu, pohon sinyal yang mereka andalkan untuk menelpon ditebang orang tak dikenal.

Mereka telah meminta warga sekampung untuk mencari sang pelaku namun sudah enam bulan tak ada tanda-tanda. Pohon sinyal itu ibarat sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Sudah ditebang, dibakar lagi. Pos polisi mereka sambangi, pos tentara pun mereka kunjungi. Rumah Pak RT, Pak RW, Pak RK, Pak Kades, Pak Lurah hingga pak-pak guru, mereka datangi demi menitahkan riwayat pohon sinyal.

Dulu sekali, pohon itu ditanam oleh Aba Safe. Mereka terima dari seorang kepala perhutanan ketika melakukan kunjungan ke kampung Liu. Beberapa anakan pohon dibagi-bagi kepada warga kampung per keluarga. Dalam waktu setahun, setiap keluarga mengeluh karena pohon yang mereka tanam tidak bertumbuh betul bahkan semuanya mati. Kematian pohon-pohon itu pun disebabkan oleh berbagai hal. Ada keluhan tidak ada air, ada orang yang datang mencabut, memotong dan membakar. Beberapa di antaranya dimakan hewan milik warga sendiri.

Aba Safe merawat pohonya siang malam. Kerap ia sirami dengan kotoran kerbau, sapi dan sebagainya. Ia pun tidak segan-segan berbicara dengan pohonnya sewaktu menyiram atau menggembur. Ia membayangkan suatu hari nanti pohon itu berbunga dan berbuah lalu ia akan memperbanyak beberapa anakan pohon lagi di seluruh area kebun. Pohonnya tumbuh dengan subur. Rerantingnya menjulur dan daun-daunnya pun hijau permai.

Setelah ditemukan warga sekampung bahwa di sekitar pohon Aba Safe ada sinyal, seluruh warga berbodong-bondong datang ke pohon itu. Walau sudah dipasang tanda larang agar tidak seorang pun naik ke atasnya, banyak warga begitu melawan dan kepala batu. Mereka menerjang dahan-dahannya hingga ada yang patah dan terluka. Dedaun pohon itu luruh sebelum menguning.

Ama Safe terkejut kalau pohon sinyal miliknya telah murung dua minggu terakhir. Kemudian ia memasang pagar duri di sekitar pohon tersebut. Anehnya, selekas ia memasang pagar duri, sinyal pun muncul hilang. Lalu warga sekampung mengajukan keberatan ke Ama Safe. Mereka pun berdiskusi semalaman mencari jalan keluar.

“Kita tidak boleh naik ke atas pohon itu.”

“Pohon sinyal ini perlu dirawat oleh semua kita,” tukas Bihun.

“Pohon ini bukan saja milik Aba Safe tapi semua orang,” pinta Sufa. Sebelum Sufa memperbaiki posisi duduknya, Aba Safe pun merinding pertanda bahaya dari arah sudut ruang. “Supaya Sufa tahu pohon ini milik saya. Bukan milik semua orang. ” Sufa pun membalas dengan rasa malu, “Iya saya tahu Aba. Saya hanya mau omong soal tanggungjawab bersama demi menjaga pohon sinyal.” Ama Safe pun berdehem kecil tanda paham. Rona wajahnya berubah pengertian.

Diskusi dilanjutkan setelah kaum ibu mengantar keluar minuman. “Pohon sinyal ini milik negara. Kan dari dinas kehutanan. Untuk itu, kita wajib untuk merawatnya,” ungkap Besi. Aba Safe memandang sekeliling dan berkata dalam hati, “Waktu itu kita semua terima pohon yang sama. Salah sendiri kalau pohon-pohon kalian tidak tumbuh.”

Beberapa waktu kemudian seorang anak berlari datang dari arah yang tidak diketahui. Ia mengabarkan kalau ada satu pohon lagi bersinyal. Semua orang termasuk Aba Safe bertanya-tanya di mana lokasi pohon itu. Anak kecil yang sedang payah karena kelelahan sambil mengatur nafas berkata, “Di rumah tanpa tuan itu. Di sudut kampung sana.” Aba Safe mengutus beberapa orang muda berlari pergi. Sedang ibu-ibu mengurus anak itu makan dan minum.

Beberapa menit kemudian orang-orang muda itu kembali. Mereka langsung memberondong anak kecil tadi kalau-kalau ia disangka berbohong. “Di sana tidak ada pohon. Kau tahu dari mana?” Supermie yang sedang ditelan anak itu jatuh terkulai ke tanah. Mereka menerobos masuk ke dalam rumah lalu membawa paksa anak kecil itu ke pohon bersinyal tadi. Sesampainya di sana, mereka tak menemukan apa-apa. Tidak ada pohon atau pun rumah tanpa tuan. Bersama anak itu mereka kembali ke Aba Safe. Mendengar seorang menangis dari jarak dekat rumahnya, Aba Safe keluar. Ia berteriak-teriak agar para pemuda melepaskan anak kecil tadi.

Berto belum saja menghentikan tangisannya. Ia menangis karena telah dipukuli gara-gara berita pohon sinyal lain lagi di kampungnya. Ia tidak menyangka handphone-nya tadi bersinyal di sekitar area ujung kampung itu. Maka ia berlari memberitahukan ke semua warga sekampung yang sedang berada di rumah Aba Safe. Setelah dirayu untuk diam, Berto mendengar handphone-nya sedang bergetar. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu membawa handphone ke Aba Safe. Begitu Aba Safe mengetahui bahwa handphone Berto bergetar, ia pun mencari dan mengaktifkan handphone miliknya. Di dalamnya handphone-nya, Aba Safe baru mengetahui beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa sms muncul satu persatu.

“Aba, kenapa hp tidak aktif? Kapan ke Kupang? Apa kabar, Aba? Sehat-sehat? Ada buat apa?”

Bihun dan Sufa ikut mengeluarkan handphone mereka lalu mengaktifkannya. Dering pertanda sms masuk diterima. “Mama, apa kabar? Kapan kirim uang? Bagaimana kabar Om Aba?”

Setiap warga di rumah Aba Safe ikut mengeluarkan handphone satu persatu. Ternyata malam itu sinyal di handphone mereka berstatus tongkat. Mereka pun bubar pergi ke rumah masing-masing. Menyusuri gulitanya malam, terdengar Bihun menelpon entah siapa yang di sana. Sedangkan Aba Safe membesarkan loudspeaker dari handphonenya saat mendengarkan lagu Magdalena. Dari dekat sekali, ia memandang ke arah bekas pohon sinyal. Sinyal masih tongkat, sedangkan ia terlanjur menguap. (*)

 

Oleh : Deodatus D. Parera, Lahir di Oepoli, 25 Juni 1990. Anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora NTT.

*) Tinggal di Centrum Diakonat Keuskupan Agung Kupang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here