Anggi

Ada jerit tangis menderu

Langkah kaki lesu menapak jejak

Berusaha kuat menginjak tanah kelahirannya

Tanah yang selama ini mereka cangkul

Kini digilas roda baja tanpa iba

Para petani gigit jari di ladang sendiri

Mafia kerdil berpesta di atas peluh keringat petani

Dengan tampang garang, aparat mengamankan

Bukan rakyat yang dibela

Tapi pundi-pundi uanglah majikan mereka

” Tak usah banyak bacot, nurut selamat ”

Kata-kata itu membuat rakyat terbakar

Petani tak akan menjadi anjing jinak mereka

Jikalau perlu nyawa ini akan sangat terhormat , bila harus kehilangannya

Cangkul adalah senjata kami melawan penindasan

Tekad kami akan merobohkan ketidak-adilan

Bukankah begitu yang kau inginkan, wahai manusia rakus ?

Kau rendahkan kami dengan kekayaanmu

Kau kira kami seorang pelacur yang mendadak bisu ketika ditampar duit

Kau pikir kami tikus berdasi yang duduk di parlemen hamba para pemodal besar

Ingin aku tertawa bersama saudaraku semua

Melihat ketamakan dan kerakusanmu

Perlawanan terbaik adalah dengan doa

Tapi jika engkau masih tetap congkak

Ingatlah kami adalah petani

Pekerja keras bukan seorang perunding atau makelar amatir yang dengan bodohnya engkau bodohi

Cukup, cukup ini sebagai awal perjuangan kami melawan ketidakadilan

Hanya perdamaian dan kemanusiaan yang kami cari (*)

************************************************************************

Oleh Anggriani Dangu Manu (Front Mahasiswa Nasional Kupang)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here