SMPK Hati Tersuci Maria Halilulik Belu

Harus diakui bahwa dewasa ini SMPK HTM Halilulik tidak asing  lagi bagi masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur atau bahkan masyarakat Indonesia. Keharuman namanya semerbak hingga ke pelosok-pelosok daerah karena banyak orang merasa memiliki dan berhutang budi padanya. Mulai dari para Imam, Biarawan/i, pemikir, pendidik, pegawai pemerintah hingga kepada masyarakat bawah. Hal ini menjadi pujian bagi sekolah ini dan kebanggaan bagi mereka yang merasa memilikinya. Namun siapa yang dapat menyangka kalau sekolah ini lahir dari mimpi dan kerja keras seorang Senensis.

Senensis, atau lebih dikenal sebagai Sr. Senensis Keine, SSpS adalah anggota komunitas biarawati dari Serikat Misi Abdi Roh Kudus (SSpS). Ia lahir dan tumbuh dari sebuah keluarga katolik yang saleh di Belanda. Pengaruh kesalehan kehidupan keluarganya yang sangat taat akan Kekatolikan akhirnya menumbuhkan di dalam dirinya benih panggilan  menjadi rasul Kristus. Benih yang ditaburkan Tuhan akhirnya dapat tumbuh dengan subur. Pada usianya yang ke 20 tahun dengan komitmen yang utuh ia memutuskan untuk masuk menjadi seorang Biarawati pada Serikat Misi Abdi Roh Kudus (SSpS).

Kehidupannya sebagai seorang biarawati dijalaninya dengan penuh tanggung jawab. Ia sungguh menyadari bahwa menjadi seorang Biarawati merupakan suatu panggilan yang istimewa dan personal. Hari-hari hidup di rumahnya yang baru di Biara membuat ia semakin mencintai dunia sebagai rumah tempat tinggalnya.

Dalam perjalanan waktu di tahun 1943 ketika Serikat SSpS menyebarkan misinya di Indonesia dan Sr yang pada waktu itu adalah seorang biarawati muda berani menerima tawaran menjadi misionaris. Dengan iman, harapan dan kasih yang dimilikinya ia rela  meninggalkan kampung halamannya di Belanda untuk pergi ke Indonesia demi mewartakan kasih dan kebaikan Kristus. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan kasih dan kesetiaannya kepada Kristus  mempelainya.

Pada tahun-tahun awal karya misinya di Indonesia khususnya di Kabupaten Belu, misionaris yang berasal dari Belanda itu sudah memiliki tekad yang besar untuk mendirikan sebuah sekolah. Keinginan besar ini sejatinya lahir dari rasa prihatin akan realitas kehidupan masyarakat di Kabupaten Belu yang pada umumnya masih sangat tertinggal. Seperti di bidang pendidikan; banyak orang Belu yang  masih buta huruf, mereka tidak dapat membaca dan menulis karena tidak bersekolah.

Selain itu, di dalam praktik kehidupan bersosial masyarakat, sangat kental terhadap pembagian kelas sosial bagi kaum perempuan dan laki-laki. Laki-laki umumnya dipandang sebagai yang kuat dan yang berkuasa dan karena itu diaminkan sebagai makhluk kelas atas, sedangkan perempuan adalah yang lemah dan tidak berdaya karena itu dilihat sebagai makhluk kelas rendah/bawah. Pembagian kelas ini merupakan wujud aktual dari praktik budaya patriarkat yang kerap kali di dalam lingkungan keluarga dan masyarakat perempuan selalu dikorbankan dan mendapat perlakuan yang tidak adil.

Selain karena situasi sosial masyarakat, tekad Sr. Senensis untuk mendirikan sebuah sekolah juga tumbuh dari keinginan besarnya untuk  melayani gereja. Ia mau membantu gereja melalui lembaga sekolah untuk menemukan benih-benih panggilan hidup selibat di dalam pribadi-pribadi masyarakat Belu bagi karya pelayanan dalam misi gereja yang memang pada waktu itu sangatlah kurang. Ia percaya bahwa akan lebih menemukan benih panggilan hidup selibat melalui lembaga sekolah.

Pada suatu hari di awal tahun 1955 melalui  diskusi dengan saudara sekomunitasnya dan dengan berbagai macam pertimbangan Sr. Sinensis akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan P. Piet Verharen, SVD yang pada saat itu  menjabat sebagai direktur sekolah SGB Don Bosco di Atambua untuk menyampaikan niatnya mendirikan sebuah sekolah. Ia percaya bahwa melalui P. Piet Verharen, SVD Tuhan akan membantu dia mewujudkan segala impiannya.

Hasil memang tidak pernah menghianati segala usaha. Setiap niat baik sudah  pasti ada jalan.  Dalam waktu yang tidak sampai setahun sesudah pertemuannya dengan direktur SGB Don Bosco di Atambua, akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1955 atas restu P. Piet sebuah sekolah cabang SGB Don Bosco khusus untuk kaum perempuan dibuka  di Halilulik yang dibangun pada lahan milik Biara Susteran St. Teresa yang secara kebetulan menjadi tempat tinggal Pater Regional SVD dan sejumlah imam SVD dengan  nama  SGB Don Bosco Puteri (Kehadiran SGB Don Bosco menjadi tonggak berdirinya Kongregasi Pribumi Pengabdi Hati Tersuci Maria (PHTM) yang kemudian bergabung dalam Kongregasi Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) pada tahun 1961).

Sekolah ini kemudian diserahkan kepada Sr. Senensis sebagai kepala pengelolah yang dibantu oleh Sr. Aldegunde, SSpS sebagai asisten serta beberapa guru pengajar dari kaum awam yakni Ibu Blandina Ane, Maria Bait, Yuliana Raga dan bapak Wilhelmus Domi dengan persyaratan: hanya menerima siswa putri saja dengan jumlah batas penerimaan siswa maksimal 30 orang.

Pintu sudah terbuka. Perjalanan untuk mewujudkan kecerdasan dan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat, serta  menemukan benih panggilan hidup selibat untuk melayani gereja telah dimulai. Semuanya dimulai dari nol, dari yang kurang dan yang terbatas. Namun tak pernah ada keluhan dalam bekerja, tak pernah ada penolakan dalam tanggungjawab hanya kerja keras, doa dan tapa serta  cinta yang tulus dalam karya pelayanan yang melengkapi segalanya.

Di sekolah ini Sinensis tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tetapi juga praktek nilai-nilai hidup yang baik dan benar. Ia menyadari sungguh bahwa tujuan dari pendidikan adalah tidak hanya meningkatkan kecerdasan intelektual dan moral yakni mengolah akal dan melatih sikap para peserta didiknya, tetapi juga kecerdasan religius dan sosialnya yaitu mengasah hati untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan dan mencintai lebih dalam pelayanan demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Pendidikan itu haruslah menyeluruh karena menyangkut dengan usaha memanusiakan manusia.  Dan inilah yang ia buat Sr. Senensis kepada mereka yang didiknya.

Peran dan pengaruh Sr. Senensis pada lembaga Sekolah SGB Don Bosco Putri di Halilulik dalam perkembangannya membawa warna baru dalam misi pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat yang mula-mula merasa asing terhadap dunia pendidikan akhirnya menyadari sungguh  betapa penting pendidikan itu bahwa pendidikan tidak pernah membeda-bedakan siapa dan apa seseorang, dan dapat merubah hidup manusia ke arah yang lebih baik.

Dalam hal ini Sinensis telah berhasil membangun kepercayaan masyarakat kepada dunia pendidikan dan lingkungan sosial masyarakat.  Selain membawa dampak bagi dunia pendidikan dan masyarakat kehadirannya melalui SGB Don Bosco Putri juga  membawa dampak bagi misi gereja dimana beberapa murid didikannya berhasil menjadi biarawati serikat SSpS seperti Sr. Maria Dolorosa Farias, SSpS; Sr. Maria Bernadete Maunu, SSpS dan Sr. Maria Consolata Motu, SSpS (kelak menjadi salah satu kepala sekolah SMPK HTM Halilulik).

Pada tanggal 1 Agustus 1958 SGB Don Bosco Halilulik beralih nama menjadi SMP Putri HTM Halilulik dan pada tanggal 22 Agustus 1958 secara resmi pemerintah mengukuhkan sekolah ini menjadi sekolah menengah pertama untuk puteri  serta mengangkat Sr. Senensis menjadi kepala sekolah. Melalui kerjasama dengan pemerintah dalam menjawab kebutuhan masyarakat yang haus akan pendidikan dan kebutuhan gereja dalam karya dan pelayanannya, sekolah  ini mendidik tiga rombongan belajar dengan tendensi pendidikan dan pengajaran spesifik bagi putri yang berkeinginan menjadi  guru pada sekolah rakyat dan menjadi suster pada Serikat Misi Abdi Roh Kudus dengan tuntutan akademik yang tinggi pada jurusan Paspal (Pasti Alam) dan IPS yang mana jika siswa memperoleh nilai 5 (lima) dan dibawah lima atau diistilahkan dengan angka merah maka siswa tersebut harus dikeluarkan.Dengan kekhususan dan tuntutan akademik tersebut  maka sekolah ini sering disebut juga sebagai SMP kandidat. . Sekolah ini menjadi sekolah pertama yang berada di Halilulik dan merupakan sekolah khusus untuk kaum perempuan pertama di NTT.

Pada tahun 1961, Sr. Senensis akhirnya melepaskan tongkat kepemimpinannya sebagai kepala sekolah digantikan oleh Sr. Aldegunde, SSpS. Hal ini dilakukannya  karena usia dan tenaganya yang mulai menua. Dibawah moto “Caritas et Veritas ” SMPK Hati Tersuci Maria terus melangkah sambil membenah dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan, informasi dan teknologi hingga menempatkannya sebagai salah satu lembaga layanan Pendidikan Menengah Pertama yang memiliki potensi yang strategis yang penataan dan pengembangannya diarahkan sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas dan kompetitif.

Perjuangan dan kerja keras yang didasarkan pada doa dan cinta dalam pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat dan gereja selalu menjadi dasar sekolah ini melangkah hingga akhirnya sekolah ini boleh masuk dalam nominasi Calon Sekolah Standar Nasional (CSSN) dari ribuan SMP di wilayah Nusa Tenggara Timur. Hal ini merupakan hasil dari kerja keras lembaga ini yang akhirnya mendapat tanggapan positif dari pemerintah dalam rangka menyediakan standar pelayanan pendidikan sehingga dapat memperluas kesempatan memperoleh pendidikan, berkontribusi positif dalam penyediaan sumber daya manusia yang berkompeten sehingga terjadi efisiensi  dalam pendayagunaan sumber-sumber belajar.

Sr. Senensis telah dipanggil pulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Meskipun raganya tak lagi bersama, namun jiwa; pikiran dan semangatnya senantiasa hidup dan menjiwai seluruh perjalanan SMPK HTM Halilulik. Ia selalu dikenang sebagai sosok seorang  ibu, guru, saudara dan sahabat sejati yang berani mengorbankan diri dan segala yang dimilikinya demi mereka yang dicintainya.

Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia hanya tetap satu biji saja. Tetapi jika mati ia akan menghasilkan banyak buah. Hidup kita digandakan dan menjadi berkat bagi sesama jika berani menaburkan diri, menyerahkan dan mengorbankan diri kita bagi sesama. kenyamanan dan kepentingan diri perlu ditaklukkan agar hidup kita dapat berdaya guna dan menjadi sukacita bagi orang lain.

siapa yang mencintai nyawanya ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa yang tidak mencintai nyawanya di dunia ini ia akan memeliharanya untuk di kehidupan kekal. Hidup kita adalah sebuah anugerah, sebuah pemberian gratis, cuma-cuma oleh rahmat Allah maka konsekuensinya adalah hendaknya hidup kita perlu dibagikan dan dipersembahkan demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama.

Pengalaman Sr Senensis, SSpS dalam sejarah SMPK HTM Halilulik hendaknya menjadi inspirasi hidup bagi kita. Ia berani merelakan dan mengorbankan dirinya demi cintanya kepada gereja dan masyarakat. Ia menyerupai Sang Guru Yesus Kristus yang rela menyerahkan dirinya demi sahabat-sahabat-Nya. Berani  keluar dari rumah egoisme, keluar dari mematikan kepentingan diri untuk menaburkan kebaikan dan mengorbankan diri demi kebaikan banyak orang. hidup kita akan menjadi berbuah yang berlimpah jika kita berani membuka diri kepada sesama. (*)

 

Oleh Angelomestius Berno Laba Lejap, S. Fil

*Penulis merupakan Guru SMPK Hati Tersuci Maria Belu, NTT (Peminat Sastra)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here